Otak Albert Einstein Memiliki Kejeniusan yg sangat Tinggi

Otak Einstein memiliki pola lipatan yang luar biasa di beberapa bagiannya, yang dapat membantu menjelaskan mengapa dia jenius. Demikian yang ditunjukkan dalam foto terbaru dalam jurnal “Brain” yang terbit 16 November. Albert Einstein, ahli fisika yang jenius itu memiliki lipatan ekstra dalam materi otaknya yang berwarna abu-abu, yang merupakan bagian otak untuk pikiran sadar. Secara khusus, lobus frontalis, daerah yang berhubungan dengan pemikiran abstrak dan perencanaan, memiliki lipatan yang tidak biasa dan rumit, seperti yang dinyatakan dalam sebuah analisis.  Gambar“Bagian otak tersebut  adalah bagian yang sangat canggih dari otak manusia,” kata Dean Falk, penulis penelitian dan seorang antropolog di Florida State University, mengacu pada materi abu-abu tersebut. “Dan otak Einstein sangat luar biasa.”

Foto otak sang jenius

Albert Einstein adalah fisikawan yang paling terkenal dari abad ke-20. Teori terobosannya mengenai relativitas umum menjelaskan bagaimana cahaya membelok karena lipatan ruang dan waktu. Ketika ilmuwan tersebut meninggal pada 1955 di usia 76 tahun, Thomas Harvey, ahli patologi yang mengautopsinya, mengambil otak Einstein dan menyimpannya. Harvey mengiris ratusan bagian tipis jaringan otak Einstein untuk diperiksa dengan mikroskop dan juga memotret 14 foto otak tersebut  dari beberapa sudut. Harvey mempresentasikan sebagian penelitiannya, namun tetap merahasiakan foto tersebut karena ingin menulis buku tentang otak fisikawan tersebut. Tetapi dia meninggal sebelum bukunya selesai. Foto-foto tersebut tetap tersembunyi selama beberapa puluh tahun. Pada 2010, setelah menjalin persahabatan dengan salah satu penulis penelitian yang baru, keluarga Harvey menyumbangkan foto tersebut ke National Museum of Health and Medicine di Washington D.C, Tim Falk mulai menganalisis foto-foto tersebut pada 2011.

Lebih banyak koneksi sel otak

Tim tersebut menemukan bahwa secara keseluruhan, otak Einstein memiliki lipatan yang jauh lebih rumit di bagian celebral cortex, yang merupakan materi berwarna abu-abu pada permukaan otak dan berperan untuk pikiran sadar. Secara umum, materi abu-abu yang lebih tebal berhubungan dengan IQ yang lebih tinggi. Banyak ilmuwan percaya bahwa dengan lipatan yang lebih banyak dapat memberikan area permukaan tambahan untuk pemrosesan mental, yang memungkinkan lebih banyak koneksi antara sel-sel otak, kata Falk. Dengan lebih banyak koneksi antara bagian yang jauh dari otak, seseorang akan mampu membuat lompatan mental, dengan menggunakan sel-sel otak yang letaknya berjauhan tersebut untuk memecahkan beberapa masalah kognitif. Prefrontal cortex, yang memainkan peranan  penting untuk pemikiran abstrak, membuat prediksi dan berencana, juga memiliki pola lipatan yang luar biasa rumit pada otak Einstein.

Mungkin hal tersebut telah membantu sang fisikawan dalam mengembangkan teori relativitas. “Einstein berpikir soal percobaan saat ia membayangkan dirinya menyusuri seberkas cahaya, dan itu persis merupakan bagian otak yang diduga membuat seseorang menjadi sangat aktif” dalam eksperimen rumit semacam itu, ujar Falk kepada LiveScience. Selain itu, lobus oksipitalis dari otak Einstein, yang melakukan proses visual, menunjukkan lipatan tambahan. Lobus parietalis bagian kanan dan kiri juga tampak sangat asimetris, ungkap Falk. Tidak jelas hubungan antara bagian tersebut dan kejeniusan Einstein, tapi bagian otak tersebut adalah kunci untuk tugas-tugas spasial dan penalaran matematika, tambah Falk.

Para peneliti masih belum mengetahui apakah otak Einstein sudah luar biasa sejak lahir atau karena ia menggali fisika selama bertahun-tahun yang menyebabkan otaknya menjadi sangat spesial. Falk yakin keduanya memainkan peran penting dalam kejeniusan Einstein.
“Entah itu alami atau dipupuk,” katanya. “Ia lahir dengan otak yang sangat baik, dan dia memiliki berbagai pengalaman yang memungkinkan dia untuk mengembangkan potensi yang dimilikinya.” Tapi sebagian besar kemampuan baku Einstein mungkin didapatnya secara alami bukan dari hasil kerja kerasnya seumur hidup, kata Sandra Witelson, dari Michael G. De Groot School of Medicine at McMasters University yang telah melakukan penelitian di masa lalu mengenai otak Einstein. Pada 1999, karyanya mengungkapkan bahwa lobus parietalis bagian kanan Einstein memiliki lipatan ekstra, yang didapatkan dari gen orangtuanya atau terjadi ketika Einstein masih dalam kandungan. “Otak tersebut berbeda bukan sekadar dari ukuran yang lebih besar atau kecil, namun juga polanya,” ungkap Witselon. “Anatomi otaknya sangat unik jika dibandingkan dengan setiap foto atau gambaran otak manusia yang pernah ada.”

FISIOLOGI HEWAN AIR (FHA)

 

      Mekanisme dari Kontraksi Otot

            Otot rangka adalah masa otot yang bertaut pada tulang yang berperan dalam menggerakkan tulang-tulang tubuh. Otot rangka dapat kita kaji lebih dalam misalnya dengan mempelajari otot gastroknemus pada katak. Otot gastroknemus katak banyak digunakan dalam percobaan fisiologi hewan. Otot ini lebar dan terletak di atas fibiofibula, serta disisipi oleh tendon tumit yang tampak  jelas (tendon Achillus) pada permukaan kaki

.           Mekanisme kerja otot pada dasarnya melibatkan suatu perubahan dalam keadaan yang relatif dari filamen-filamen aktin dan myosin. Selama kontraksi otot, filamen-filamen tipis aktin terikat pada dua garis yang bergerak ke Pita A, meskipun filamen tersebut tidak bertambah banyak.Namun, gerakan pergeseran itu mengakibatkan perubahan dalam penampilan sarkomer, yaitu penghapusan sebagian atau seluruhnya garis H. selain itu filamen myosin letaknya menjadi sangat dekat dengan garis-garis Z dan pita-pita A serta lebar sarkomer menjadi berkurang sehingga kontraksi terjadi. Kontraksi berlangsung pada interaksi antara aktin miosin untuk membentuk komplek aktin-miosin.

Kontraksi otot dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain :

ü  Treppe atau staircase effect, yaitu meningkatnya kekuatan kontraksi berulang kali pada suatu serabut otot karena stimulasi berurutan berseling beberapa detik. Pengaruh ini disebabkan karena konsentrasi ion Ca2+ di dalam serabut otot yang meningkatkan aktivitasmiofibril.

ü  Summasi, berbeda dengan treppe, pada summasi tiap otot berkontraksi dengan kekuatan berbeda yang merupakan hasil penjumlahan kontraksi dua jalan (summasi unit motor berganda dan summasi bergelombang).

ü  Fatique adalah menurunnya kapasitas bekerja karena pekerjaan itu sendiri.

ü  Tetani adalah peningkatan frekuensi stimulasi dengan cepat sehingga tidak ada peningkatan tegangan kontraksi.

ü  Rigor terjadi bila sebagian terbesar ATP dalam otot telah dihabiskan, sehingga kalsium tidak lagi dapat dikembalikan ke RS melalui mekanisme pemompaan.

 

Metode pergeseran filamen dijelaskan melalui mekanisme kontraksi pencampuran aktin dan miosin membentuk kompleks akto-miosin yang dipengaruhi oleh ATP. Miosin merupakan produk, dan proses tersebut mempunyai ikatan dengan ATP. Selanjutnya ATP yang terikat dengan miosin terhidrolisis membentuk kompleks miosin ADP-Pi dan akan berikatan dengan aktin. Selanjutnya tahap relaksasi konformasional kompleks aktin, miosin, ADP-pi secara bertahap melepaskan ikatan dengan Pi dan ADP, proses terkait dan terlepasnya aktin menghasilkan gaya fektorial.

 

 

      Pengaturan Bagi Kontraksi Otot

Gerakan otot lurik tentu dibawah komando atau suatu kontrol yang disebut impuls saraf motor, antara lain sebagai berikut ;

a. Ca2+ mengatur Kontraksi Otot dengan proses yang ditengahi oleh Troponin dan Tropomiosin

ion Kalsium diyakini turut berperan serta dalam pengaturan kontraksi otot. Kemudian, s pengaruh Ca2+ ditengahi oleh Troponin dan Tropomiosin. Ia menunjukkan aktomiosin yang diekstrak langsung dari otot (sehingga mengandung ikatan dengan troponin dan tropomiosin) berkontraksi karena ATP hanya jika Ca2+ ada pula. Kehadiran troponin dan tropomiosin pada sistem aktomiosin tersebut meningkatkan sensitivitas sistem terhadap Ca2+. Di samping itu, subunit dari troponin, TnC, merupakan satu-satunya komponen pengikat Ca2+.

 

b. Impuls saraf melepaskan Ca2+ dari Retikulum Sarcoplasma

Sebuah impuls saraf yang tiba pada sebuah persambungan neuromuskular (= sambungan antara neuron dan otot) akan dihantar langsung kepada tiap-tiap sarkomer oleh sebuah sistem tubula transversal / T.

Tubula tersebut merupakan pembungkus-pembungkus semacam saraf pada membran plasma fiber. Tubula tersebut mengelilingi tiap miofibril pada disk Z masing-masing. semua sarkomer pada sebuah otot akan menerima sinyal untuk berkontraksi sehingga otot dapat berkontraksi sebagai satu kesatuan utuh. Sinyal elektrik itu dihantar (dengan proses yang belum begitu dimengerti) menuju retikulum sarkoplasmik (SR). SR merupakan suatu sistem dari vesicles (saluran yang mengandung air di dalamnya) yang pipih, bersifat membran, dan berasaldari retikulum endoplasma. Sistem tersebut membungkus tiap-tiap miofibril hampir seperti rajutan kain. Membran SR yang secara normal non-permeabel terhadap Ca2+ itu mengandung sebuah transmembran Ca2+-ATPase yang memompa Ca2+ kedalam SR untuk mempertahankan konsentrasi [Ca2+] bagi otot rileks. Kemampuan SR untuk dapat menyimpan Ca2+ ditingkatkan lagi oleh adanya protein yang bersifat amat asam yaitu kalsequestrin (memiliki situs lebih dari 40 untuk berikatan dengan Ca2+). Kedatangan impuls saraf membuat SR menjadi permeabel terhadap Ca2+.Akibatnya, Ca2+ berdifusi melalui saluran-saluran Ca2+ khusus menuju interior miofibril, dan konsentrasi internal [Ca2+] akan bertambah. Peningkatan konsentrasi Ca2+ ini cukup untuk memicu perubahan konformasional dalam troponin dan tropomiosin. Akhirnya, kontraksi otot terjadi dengan mekanisme “perahu dayung” tadi. Saat rangsangan saraf berakhir, membran SR kembali menjadi impermeabel terhadap Ca2+ sehingga Ca2+ dalam miofibril akan terpompa keluar menuju SR. Kemudian otot menjadi rileks seperti semula.

      Otot Halus (Smooth Muscles

Makhluk hidup vertebrata memiliki dua jenis otot selain otot lurik yaitu otot cardiac (=kardiak; berhubungan dengan jantung) dan otot halus. Otot cardiac ternyata juga berlurik-lurik sehingga mengindikasikan suatu persamaan antara otot cardiac dan otot lurik. Walaupun begitu, otot skeletal (lurik) dan otot cardiac masih memiliki perbedaan antar sesamanya terutama pada metabolismenya. Otot cardiac harus beroperasi secara kontinu sepanjang usia hidup dan lebih banyak tergantung pada metabolisme secara aerobik. Otot cardiac juga secara spontan dirangsang oleh otot jantung itu sendiri dibanding oleh rangsangan saraf eksternal (=rangsangan volunter). Di samping itu, otot halus berperan dalam kontraksi yang lambat, tahan lama, dan tanpa melalui rangsang eksternal seperti pada dinding usus, uterus, pembuluh darah besar. Otot halus disini memiliki sifat yang sedikit berbeda dibanding otot lurik. Otot halus atau sering dikatakan otot polos ini berbentuk seperti spindel, tersusun oleh sel sel berinti tunggal, dan tidak membentuk miofibril. Miosin dari otot halus (protein khusus secara genetik) berbeda secara fungsional daripada miosin otot lurik dalam beberapa hal:

  • ~ Aktivitas maksimum ATPase hanya sekitar 10% dari otot lurik
  • ~ Berinteraksi dengan aktin hanya saat salah satu rantai ringannya terfosforilasi
  • ~ Membentuk filamen-filamen tebal dengan cross-bridges yang tak begitu teratur serta tersebar di seluruh panjang filamen tebal

a. Kontraksi Otot Halus dipicu oleh Ca2+

Filamen-filamen tipis otot halus memang mengandung Aktin dan Tropomiosin namun tak seberapa mengandung Troponin. Kontraksi otot halus tetap dipicu oleh Ca2+ karena miosin rantai ringan kinase (=myosin light chain kinase / MLCK) secara enzimatik akan menjadi aktif hanya jika Ca2+-kalmodulin hadir. MLCK merupakan sebuah enzim yang memfosforilasi rantai ringan miosin sehingga menstimulasi terjadinya kontraksi otot halus.

Konsentrasi intraselular [Ca2+] bergantung pada permeabilitas membran plasma sel otot halus terhadap Ca2+. Permeabilitas otot halus tersebut dipengaruhi oleh sistem saraf involunter atau autonomik. Saat [Ca2+] meningkat, kontraksi otot halus dimulai. Saat [Ca2+] menurun akibat pengaruh Ca2+- ATPase dari membran plasma, MLCK kemudian dideaktivasi. Lalu, rantai ringan terdefosforilasi oleh miosin rantai ringan phosphatase dan otot halus kembali rileks.

b. Aktivitas Otot Halus termodulasi secara Hormonal

Otot halus juga memberi tanggapan pada hormon seperti epinefrin.. Tahap-tahap kontraksi yang terjadi pada otot halus ternyata lebih lambat daripada tahap-tahap yang terjadi untuk otot lurik. Jadi, struktur dan pengaturan kontrol otot halus tepat dengan fungsi yang diembannya yaitu pengadaan suatu gaya tegang selama rentang waktu cukup lama namun mengkonsumsi ATP dengan laju konsumsi rendah.

      Siklus Cross-Bridge

Dengan tidak adanya ATP, myosin lintas jembatan mengikat erat filamen aktin. Namun, juga mengikat dan hydrolyses ATP. ATP mengikat membawa tentang disosiasi cepat jembatan silang dari aktin. Sehingga jembatan silang aktin dapat mengikat baik atau ATP tetapi keduanya hanya transiently. Kehadiran [gamma] ATP-fosfat adalah penting untuk disosiasi sejak ADP sendiri memiliki pengaruh yang kecil. Solusi pengamatan kinetik sangat penting dalam membangun hubungan antara hidrolisis ATP dan generasi kekuatan. Fitur utama dari proses ini adalah pengamatan bahwa transduksi energi kimia yang dilepaskan oleh hidrolisis ATP menjadi kekuatan mekanik diarahkan harus terjadi selama rilis produk (ADP dan fosfat anorganik, Pi) daripada selama langkah hidrolisis sendiri (Lymn dan Taylor 1971 ). Tanpa aktin, miosin adalah produk-menghambat dan merupakan ATPase miskin. Mg-ATP cepat berdisosiasi kompleks actomyosin pada mengikat ke situs ATPase myosin; myosin kemudian menghidrolisis ATP dan membentuk kompleks myosin-produk yang stabil; aktin recombines dengan kompleks dan terdisosiasi produk, awalnya [gamma]-ion fosfat sehingga membentuk kompleks aktin-myosin asli. Angkatan yang dihasilkan selama langkah terakhir.

DAFTAR NAMA-NAMA MAHASISWA PAPUA PROGRAM BPSDM PAPUA ANGKATAN 2010 & 2011

No

Nama

Nim

Fakultas

Jurusan

1

Sonnar.M.Runaweri

105100706111001

Teknologi Pertanian

Teknologi industri pertanian

2

Andreas.R.Rumborias

105080606111001

Perikanan & Ilmu Kelautan

Ilmu Kelautan

3

Roland.S.Y.Suweni

105080106111001

Perikanan & Ilmu Kelautan

Manajemen Sumberdaya Perairan

4

Sindy.M.Hamadi

105100106111002

Teknologi Pertanian

Ilmu teknologi pangan

5

Olivia.L.Rumkorem

105080206111001

Perikanan & Ilmu Kelautan

Pemanfaatan

6

Lilis .I.Yoom

105040206111002

Pertanian

Agroekoteknologi

7

Rosmina Sasarari

105080406111001

Perikanan & Ilmu Kelautan

Sosial Ekonomi Perikanan

8

Cherly Homers

105060606111002

Teknik

Perencanaan wilayah kota  (PWK)

9

Hana Kristina Hubi

105100106111001

Teknologi Pertanian

Ilmu teknologi pangan

10

Padtricya Maraudje

115100906111004

Teknologi Pertanian

Teknik  Sumberdaya Alam & lingkungan

11

Oscar.A.Wanggai

115060606111003

Teknik

PWK

12

Ronald. N. Krakuko

115100206111001

Teknologi Pertanian

Keteknikan pertanian

13

Yohanes  Giyai

115100906111007

Teknologi  Pertanian

Teknik  Sumberdaya Alam & lingkungan

14

Salmon Pekei

115100306111002

Teknologi Pertanian

Teknologi Industri pertanian

15

Rosalia Waromi

115080106111001

Perikanan & ilmu kelautan

Menajemen sumberdaya perairan

16

Milka. Sherly.C. Makanuai

115080206111002

Perikanan & ilmu kelautan

Pemanfaatan sumberdaya perikanan

 

17

Roynaldo.B.Wondiwoi

115060906111002

Teknik

Teknik Komputer

18

Angela worabay

115080206111001

Perikanan & ilmu kelautan

Pemanfaatan sumberdaya perikanan

19

Umi.C.Samberi

115080206111003

Perikanan & ilmu kelautan

Pemanfaatan Sumberdaya perikanan

20

Yurieke.P.Rumboy

115100906111005

Teknologi Pertanian

Teknik Sumberdaya Alam & lingkungan

21

Frist.K.Mayor

115100906111003

Teknologi Pertanian

Teknik Sumberdaya Alam & lingkungan

22

Debbie.K.Kabuare

115060106111002

Teknik

Teknik sipil

23

Ishak.D.Dimara

115080506111002

Perikanan & ilmu kelautan

Budidaya Perairan

24

Agnes Geraldin Numberi

115100906111006

Teknologi Pertanian

Teknik SDA dan Lingkungan

25

Onel Tabuni

115100606111001

Teknologi Pertanian

Keteknikan pertanian

26

Federika Y Iyowau

115100706111001

Teknologi Petanian

Minat Bisnis Pangan

27

Marselya Imelda Tanati

115080606111002

Perikanan & Ilmu Kelautan

Ilmu Kelautan

28

Yustus Yekusamaon

1151003306111003

Teknologi Pertanian

Teknologi Industri pertanian

29

Albert Gento Wanggai

115060606111002

Teknik

PWK

30

Alexander Yuppy Giay

115100906111001

Teknologi  Pertanian

Teknik SDA dan Lingkungan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Klimantologi

KATA PENGANTAR

 

Dengan mengucapkan puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Essa, yang telah memberikan berkat dan rahmatNya  kepada kami. Sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini.

Makalah ini dibuat untuk memenuhi salah satu tugas dalam mata kuliah Klimantologi  dasar. Kami mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya  kepada semua pihak yang telah membantu kami kelompok delapan (8)  dalam menyelesaikan makalah ini.

Demikian makalah ini telah selesai dikerjakan. Semoga makalah  ini dapat bermanfaat bagi pembaca dan bagi semua pihak, dan kami mohon maaf bila banyak kekurangan atau kesalahan dalam penulisan makalah ini.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang

Udara terbentuk dari campuran gas yang diperlukan oleh semua tanaman dan hewan untuk hidup. Ketika bergerak,udara menekan segala sesuatu yang dilaluinya,misalnya daun berdesir dan layangan terangkat tinggi. Gerakan udara yang disebabkan oleh tekanan disebut angin

Barometer“Pernah kah kalian tahu para para pembaca laporan cuaca bicara soal tekanan barometer dengan satuan inchi atau cm air raksa? Dan bagaimana ceritanya seseorang sampai mengukur tekanan menggunakan satuan panjang? dan apa makna satu cm Hg,  (nacha, 2009).

Pertama, tolong jangan menyebut “tekanan barometer“. Udara di sekitar kita memiliki temperatur yang di ukur menggunakan sebuah termometer, kelembaban yang di ukur menggunakan sebuah higrometer, dan tekanan yang di ukur menggunakan sebuah barometer. Pembaca laporan cuaca di televisi tidak pernah bicara tentang “temperatur termometrik” atau “kelembaban barometrik”, namun entah mengapa mereka sering menyebut “tekanan barometrik” barangkali yang belakangan terdengar lebih ilmiah. “Tekanan udara” seharusnya sudah cukup.

 

Akan tetapi apakah tekanan ruang diberikan oleh udara ini? Tekanan atmosfer disebabkan oleh pemboman atau benturan tak putus-putus oleh molekul-molekul udara pada apapun yang menghalangi jalannya. Setiap kali sebuah molekul udara (terutama nitrogen dan oksigen) jatuh ke permukaan sebuah benda padat atau benda cair, ia mengerahkan ke sebuah gaya. Jumlah gaya bentur ini per detik pada tiap satuan luas inchi persegi atau sentimeter persegi pada permukaan disepakati sebagai ukuran untuk tekanan

1.2 Rumusan masalah

1. Apakah pengertian dari tekanan udara ?

2. Bagaimana  Tekanan Ruang Diberikan oleh udara ?

3. Bagaimana  Variasi Tekanan Udara terjadi ?

4. Faktor-Faktor yang Memepengaruhi Tekanan Udara ?

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian tekanan udara

Tekanan udara merupakan tenaga yang bekerja untuk menggerakkan massa udara dalam setiap satuan luas tertentu. Diukur dengan menggunakan barometer. Satuan tekanan udara adalah milibar (mb). Garis yang menghubungkan tempat-tempat yang sama tekanan udaranya disebut sebagai isobar.

Tekanan udara diukur berdasarkan tekanan gaya pada permukaan dengan luas tertentu, misalnya 1 cm2. Satuan yang digunakan adalah atmosfer (atm),millimeter kolom air raksa (mmHg) atau milibar (mbar). Tekanan udara patokan (sering juga disebut) tekanan udara normal) adalah tekanan kolom udara setinggi lapisan atmosfer bumi pada garis lintang 450 dan suhu 00C. besarnya tekanan udara tersebut dinyatakan sebagai 1 atm. Tekanan sebesar 1 atm ini setara dengan tekanan yang diberikan oleh kolom air raksa setinggi 760 mm. satuan tekanan selain dengan atm atau mmHg juga dapat dan sering dinyatakan dalam satuan kg/m2,  Konversi antara satuan tekanan udara tersebut adalah sebagai berikut

1 atm = 760 mmHg = 14,7 Psi = 1,013 mbar

Alat untuk mengukur tekanan udara disebut barometer. Tekanan udara berkurang dengan bertambahnya ketinggian tempat(elevasi atau altitude). Hubungan antara tekanan udara dengan ketinggian dapat dilihat pada persamaan laplace sebagai berikut :

H = k(1+¥t)log(β0/βh)

Hubungan antara tekanan udara dengan ketinggian tempat itu dimanfaatkan dalam merancang alat untuk pengukuran ketinggian tempat yang disebut altimeter,Tekanan udara dipengaruhi oleh suhu (Benyamin Lakitan,2002).

Tekanan udara disebabkan oleh adanya gravitasi bumi. Gas-gas penyusun udara terdiri atas molekul-molekul yang masing-masing mempunyai massa. Oleh karena itu molekul-molekul gas tersebut akan tertarik ke bumi. Benda yang mempunyai massa maka dia akan mempunyai berat. Gaya per satuan luas kita namakan tekanan (Admin,2008).

 

udara terbentuk dari campuran gas yang diperlukan oleh semua tanaman dan hewan untuk hidup. Ketika bergerak,udara menekan segala sesuatu yang dilaluinya,misalnya daun berdesir dan layangan terangkat tinggi. Gerakan udara yang disebabkan oleh tekanan disebut angin. Udara yang tak bergerak juga menekan. Bumi dikelilingi oleh lapisan udara setebal 640 km.

 

 

 

Meskipun ringan,lapisan udara ini begitu tebal sehingga menekan semua benda kepermukaan tanah dengan kekuatan yang sama dengan tekanan setebal 10,4 m. Kita tidak merasakan tekanan udara ke tubuh kita karena tekanannya sama besar pada seluruh tubuh,dan cairan dalam tubuh juga menekan ke luar. Tekanan atmosfer lebih rendah di tempat tinggi. Tekanan udara pada kapal terbang di ketinggian sekitar 16.000 m di atas permukaan tanah hanya tekanan di permukaan tanah.

Angin terjadi karena adanya perbedaan tekanan udara atau perbedaan suhu udara pada suatu daerah atau wilayah. Hal ini berkaitan dengan besarnya energi panas matahari yang di terima oleh permukaan bumi. Pada suatu wilayah, daerah yang menerima energi panas matahari lebih besar akan mempunyai  suhu udara yang lebih panas dan tekanan udara yang cenderung lebih rendah. Sehingga akan terjadi perbedaan suhu dan tekanan udara antara daerah yang menerima energi panas lebih besar dengan daerah lain yang lebih sedikit menerima energi panas, akibatnya akan terjadi aliran udara pada wilayah tersebut.(siti nur aisyah,2008).

 

2.2  Bagaimana  Tekanan Ruang Diberikan oleh udara

Udara di sekitar kita memiliki temperatur yang di ukur menggunakan sebuah termometer, kelembaban yang di ukur menggunakan sebuah higrometer, dan tekanan yang di ukur menggunakan sebuah barometer. Pembaca laporan cuaca di televisi tidak pernah bicara tentang “temperatur termometrik” atau “kelembaban barometrik”, namun entah mengapa mereka sering menyebut “tekanan barometrik” barangkali yang belakangan terdengar lebih ilmiah. “Tekanan udara” seharusnya sudah cukup.

Akan tetapi apakah tekanan ruang diberikan oleh udara ini? Tekanan atmosfer disebabkan oleh pemboman atau benturan tak putus-putus oleh molekul-molekul udara pada apapun yang menghalangi jalannya. Setiap kali sebuah molekul udara (terutama nitrogen dan oksigen) jatuh ke permukaan sebuah benda padat atau benda cair, ia mengerahkan ke sebuah gaya. Jumlah gaya bentur ini per detik pada tiap satuan luas inchi persegi atau sentimeter persegi pada permukaan disepakati sebagai ukuran untuk tekanan. Dan besar gaya ini lumayan besar ; di ketinggian air laut, gaya oleh benturan sekian banyak molekul-molekul ini mencapai total 14,7 pound per inchi atau 1,03 Kg/cm2. .

Mengukur tekanan dengan cara menghitung benturan molekul-molekul jelas sulit. Akan tetapi karena udara memberikan tekanan kepada apapun yang dilabraknya, kita dapat menggunakan gaya tekan udara pada benda apapun yang nyaman bagi kita sebagai standart ukuran.

Pada tahun 1643 di Florence, Itali, Evangelista Torricelli memutuskan bahwa tekanan atmosfir harus mampu menekan air dalam sebuah tabung kosong sampai keketinggian tertentu, dan tinggi kolom air itu dapat dijadikan ukuran untuk tekanan atmosfer. Ia dengan demikian menemukan barometer pertama di dunia. Ketika dipraktikan, ternyata tekanan atmosfer normal mampu mengangkat air sampai kira-kira tiga puluh empat kaki atau sepuluh meter. Dan sudah barang tentu, barometer temuannya harus besar sekali.

Kini kita menggunakan benda cair yang lebih berat, air raksa sebuah logam cair keperakan-yang pada hari-hari normal di tepi laut dapat terangkat hanya sampai 29,22 inchi atau 760 milimeter dalam sebuah tabung. Sesungguhnya, setiap saat tiap sentimeter permukaan tubuh kita mengalami tekanan atmosfer sebesar 760 mm air raksa atau sama sekali dengan memikul berat kolom air setinggi kira-kira 10 meter, tetapi kita tidak menyadari (Nacha,2009).

Menurut Muhammad  Yusuf (2010),Tekanan udara adalah suatu gaya per satuan luas yang bekerja pada suatu bidang didalam ruang. Dalam hal ini, tekanan udara bekerja secara tegak lurus terhadap suatu bidang.

Untuk mengukur tekanan udara digunakan:

•             Barometer, untuk ruangan terbuka

•             Manometer, untuk ruangan tertutup

 

Satuan tekanan dinyatakan dalam:

•             Kg/m2 (satuan SI)

•             psi atau pound square inch (satuan ICAO)

•             cmHg

•             inchHg

 

 

2.3  Variasi Tekanan Udara

Tekanan udara dibatasi oleh ruang dan waktu. Artinya pada tempat dan waktu yang berbeda, besarnya juga berbeda. Tekanan udara secara vertikal yaitu makin ke atas semakin menurun. Hal ini dipengaruhi oleh:

* Komposisi gas penyusunnya makin ke atas makin berkurang.

* Sifat udara yang dapat dimampatkan, kekuatan gravitasi makin ke atas makin lemah.

* Adanya variasi suhu secara vertikal di atas troposfer (>32 km) sehingga makin tinggi tempat suhu makin naik.

Tekanan udara secara horizontal yaitu variasi tekanan udara dipengaruhi suhu udara, bahwa daerah yang suhu udaranya tinggi akan bertekanan rendah dan daerah yang bersuhu udara rendah tekanannya tinggi. Pola penyebaran tekanan udara horizontal dipengaruhi:     *Lintang tempat.

* Penyebaran daratan dan lautan.

* Pergeseran posisi matahari tahunan.

 
Semakin tinggi ketinggian suatu tempat, tekanan udara semakin berkurang, hal itu karena berat udara yang ada diatasnya semakin berkurang. Setiap kenaikan 1000 feet, tekanan udara berkurang sebesar 0,5 psi. Dan tekanan udara di sea level ditetapkan 14,7 psi (Muhamad Yusuf,2010).
Rumus menghitung tekanan udara di ketinggian sebagai berikut.

 

 

 

 

 

 

2.4 Tekanan udara makin ke atas makin rendah                   

Bervariasinya tekanan udara disebabkan oleh adanya gravitasi bumi. Gas-gas penyusun udara terdiri atas molekul-molekul yang masing-masing mempunyai massa. Oleh karena itu molekul-molekul gas tersebut akan tertarik ke bumi. Benda yang mempunyai massa maka dia akan mempunyai berat. Gaya per satuan luas kita namakan tekanan.

Selain itu, gas di udara juga bisa termampatkan sehingga memenuhi persamaan Gay Lussac – Avogadro : P.V = n.R.T

Jika kedua hubungan ini digabung akan kita dapatkan persamaan tekanan udara yang bervariasi terhadap ketinggian dan suhu.

Yaitu :

 

ket :

P = Static pressure (pascals)

T = Standard temperature (kelvins)

L = Standard temperature lapse rate (kelvins per m)

h = Height above sea level (meters)

R * = Universal gas constant: 8.31432×10³ N·m / (kmol·K)

g0 = Standard gravity (9.80665 m/s²)

M = Molar mass of Earth’s air (28.9644 g/mol)

 

Gambar proses  tekanan udara ;


 

 

 

 

 
2.5  Faktor-Faktor yang Memepengaruhi Tekanan Udara

Temperatur udara adalah tingkat atau derajat panas dari kegiatan molekul dalam atmosfer yang dinyatakan dengan skala Celcius, Fahrenheit, atau skala Reamur.
Perlu diketahui bahwa suhu udara antara daerah satu dengan daerah lain sangat berbeda. hal ini sangat dipengaruhi oleh hal-hal tersebut.

a). Sudut Datangnya Sinar Matahari
Sudut datang sinar matahari terkecil terjadi pada pagi dan sore hari, sedangkan sudut terbesar pada waktu siang hari tepatnya pukul 12.00 siang. Sudut datangnya sinar matahari yaitu sudut yang dibentuk oleh sinar matahari dan suatu bidang di permukaan bumi. Semakin besar sudut datangnya sinar matahari, maka semakin tegak datangnya sinar sehingga suhu yang diterima bumi semakin tinggi. Sebaliknya, semakin kecil sudut datangnya sinar matahari, berarti semakin miring datangnya sinar dan suhu yang diterima bumi semakin rendah.

b). Tinggi Rendahnya Tempat
Semakin tinggi kedudukan suatu tempat, temperatur udara di tempat tersebut akan semakin rendah, begitu juga sebaliknya semakin rendah kedudukan suatu tempat, temperatur udara akan semakin tinggi. Perbedaan temperatur udara yang disebabkan adanya perbedaan tinggi rendah suatu daerah disebut amplitudo. Alat yang digunakan untuk mengatur tekanan udara dinamakan termometer. Garis khayal yang menghubungkan tempat-tempat yang mempunyai tekanan udara sama disebut Garis isotherm. Salah satu sifat khas udara yaitu bila kita naik 100 meter, suhu udara akan turun 0,6 °C. Di Indonesia suhu rata-rata tahunan pada ketinggian 0 meter adalah 26 °C. Misal, suatu daerah dengan ketinggian 5.000 m di atas permukaan laut suhunya adalah 26 °C × -0,6 °C = -4 °C, jadi suhu udara di daerah tersebut adalah -4 °C. Perbedaan temperatur tinggi rendahnya suatu daerah dinamakan derajat geotermis. Suhu udara rata-rata tahunan pada setiap wilayah di Indonesia berbeda-beda sesuai dengan tinggi rendahnya tempat tersebut dari permukaan laut.

c). Angin dan Arus Laut
Angin dan arus laut mempunyai pengaruh terhadap temperatur udara. Misalnya, angin dan arus dari daerah yang dingin, akan menyebabkan daerah yang dilalui angin tersebut juga akan menjadi dingin.

d). Lamanya Penyinaran
Lamanya penyinaran matahari pada suatu tempat tergantung dari letak garis lintangnya. Semakin rendah letak garis lintangnya maka semakin lama daerah tersebut mendapatkan sinar matahari dan suhu udaranya semakin tinggi.
Sebaliknya, semakin tinggi letak garis lintang maka intensitas penyinaran matahari semakin kecil sehingga suhu udaranya semakin rendah. Indonesia yang terletak di daerah lintang rendah (6 °LU – 11 °LS) mendapatkan penyinaran matahari relatif lebih lama sehingga suhu rata-rata hariannya cukup tinggi.

e). Awan
Awan merupakan penghalang pancaran sinar matahari ke bumi. Jika suatu daerah terjadi awan (mendung) maka panas yang diterima bumi relatif sedikit, hal ini disebabkan sinar matahari tertutup oleh awan dan kemampuan awan menyerap panas matahari. Permukaan daratan lebih cepat menerima panas dan cepat pula melepaskan panas, sedangkan permukaan lautan lebih lambat menerima panas dan lambat pula melepaskan panas. Apabila udara pada siang hari diselimuti oleh awan, maka temperatur udara pada malam hari akan semakin dingin ( Syiham Al Ahmadi,2010).

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

AdhyzalKandary. 2011.  http// /klimntologi/Pengertian Tekanan udara.htm.com diakses pada tanggal 26 matret 2011 pukul 13.00

Admin .2008.                      http// Selamat Datang di Situs Fisika Asyik ! Dot Com – Tekanan udara makin ke atas makin rendah.htm diakses 27 maret 2011 pada pukul 13.00.

Enslikopedia 2008.           http// klimntologi/tekanan-udara.html. com. Diakses paa tanggal 26 maret 2011.pukul 13.00 wib.

M.hendri. 2010                 http// Data kuliah/tekanan udara.com

Muhammad Yusuf.2010 http// Data kuliah/tekanan udara/tekanan-udara.html.com

Nacha .  2009.                    http:// Data KuLiaH/klimntologi/Apa maksud dari Tekanan Udara.com. Diakses   tanggal    27 Maret 2011 pukul 11.30.

Syiham Al Ahmadi. 2010 http// Data kuliah/tekanan udara/faktor-faktor-yang-mempengaruhi.html

Wikipedia . 2011.              http// D@t@ KuLiaH/klimntologi/Tekanan_atmosfer.htm diakses pada tanggal 27 maret 2011. Pukul 13.00

 

 

 

 

Kandungan Rokok dan Akibatnya

Rokok adalah benda beracun yang memberi efek santai dan sugesti merasa lebih jantan. Di balik kegunaan atau manfaat rokok yang secuil itu terkandung bahaya yang sangat besar bagi orang yang merokok maupun orang di sekitar perokok yang bukan perokok.

 

1. Asap rokok mengandung kurang lebih 4000 bahan kimia yang 200 diantaranya beracun dan 43 jenis lainnya dapat menyebabkan kanker bagi tubuh. Beberapa zat yang sangat berbahaya yaitu tar, nikotin, karbon monoksida, dsb. 
 
2. Asap rokok yang baru mati di asbak mengandung tiga kali lipat bahan pemicu kanker di udara dan 50 kali mengandung bahan pengeiritasi mata dan pernapasan. Semakin pendek rokok semakin tinggi kadar racun yang siap melayang ke udara. Suatu tempat yang dipenuhi polusi asap rokok adalah tempat yang lebih berbahaya daripada polusi di jalanan raya yang macet.
3. Seseorang yang mencoba merokok biasanya akan ketagihan karena rokok bersifat candu yang sulit dilepaskan dalam kondisi apapun. Seorang perokok berat akan memilih merokok daripada makan jika uang yang dimilikinya terbatas.
4. Harga rokok yang mahal akan sangat memberatkan orang yang tergolong miskin, sehingga dana kesejahteraan dan kesehatan keluarganya sering dialihkan untuk membeli rokok. Rokok dengan merk terkenal biasanya dimiliki oleh perusahaan rokok asing yang berasal dari luar negeri, sehingga uang yang dibelanjakan perokok sebagaian akan lari ke luar negeri yang mengurangi devisa negara. Pabrik rokok yang mempekerjakan banyak buruh tidak akan mampu meningkatkan taraf hidup pegawainya, sehingga apabila pabrik rokok ditutup para buruh dapat dipekerjakan di tempat usaha lain yang lebih kreatif dan mendatangkan devisa.
5. Sebagian perokok biasanya akan mengajak orang lain yang belum merokok untuk merokok agar merasakan penderitaan yang sama dengannya, yaitu terjebak dalam ketagihan asap rokok yang jahat. Sebagian perokok juga ada yang secara sengaja merokok di tempat umum agar asap rokok yang dihembuskan dapat terhirup orang lain, sehingga orang lain akan terkena penyakit kanker.
6. Kegiatan yang merusak tubuh adalah perbuatan dosa, sehingga rokok dapat dikategorikan sebagai benda atau barang haram yang harus dihindari dan dijauhi sejauh mungkin. Ulama atau ahli agama yang merokok mungkin akan memiliki persepsi yang berbeda dalam hal ini.
Kesimpulan :
Jadi dapat disimpulkan bahwa merokok merupakan kegiatan bodoh yang dilakukan manusia yang mengorbankan uang, kesehatan, kehidupan sosial, pahala, persepsi positif, dan lain sebagainya. Maka bersyukurlah anda jika belum merokok, karena anda adalah orang yang smart / pandai.
Ketika seseorang menawarkan rokok maka tolak dengan baik. Merasa kasihanlah pada mereka yang merokok. Jangan dengarkan mereka yang menganggap anda lebih rendah dari mereka jika tidak ikutan ngerokok. karena dalam hati dan pikiran mereka yang waras mereka ingin berhenti merokok.
“Merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi dan gangguan kehamilan dan janin.”
Meskipun masyarakat sudah mengetahui dengan jelas akibat merokok tapi kebiasaan itu tetap saja dilakukan. Ada yang beralasan kepala pusing kalau sehari tidak merokok, ada yang buat supaya lebih percaya diri, ada pula yang hanya sekedar buat gaya-gayaan.

Banyak upaya yang dilakukan pemerintah dalam upaya mengurangi jumlah perokok namun tetap saja tak efektif.

Padahal banyak sekali penyakit yang akan menyerang manusia akibat merokok karena asap rokok yang dihirup seorang perokok mengandung komponen gas dan partikel. Partikel yang dibebaskan selama merokok sebanyak 5 x 109 pp. Komponen gas terdiri dari karbon monoksida, karbon dioksida, hidrogen sianida, amoniak, oksida dari nitrogen dan senyawa hidrokarbon. Adapun komponen partikel terdiri dari tar, nikotin, benzopiren, fenol, dan kadmium.Yang mana semua zat tersebut adalah berbahaya bagi manusia.

Partikel asap rokok, seperti benzopiren, dibenzopiren, dan uretan, dikenal sebagai bahan karsinogen yang mana dapat menyebabkan kanker. Untuk nikotin selain menyebabkan ketagihan merokok, juga merangsang pelepasan adrenalin, meningkatkan frekuensi denyut jantung, tekanan darah, kebutuhan oksigen jantung, serta menyebabkan gangguan irama jantung. Nikotin juga mengganggu kerja saraf, otak, dan banyak bagian tubuh lainnya.Rokok juga mengandung karbonmonoksida (CO) yang dapat menggantikan tempat oksigen di hemoglobin, mengganggu pelepasan oksigen, dan mempercepat aterosklerosis (pengapuran/penebalan dinding pembuluh darah). Dengan demikian, CO menurunkan kapasitas latihan fisik, meningkatkan viskositas darah, sehingga mempermudah penggumpalan darah. Dan masih banyak lagi kandungan zat berbahaya yang efeknya tak kalah seram bagi tubuh manusia.

Penyakit seperti stroke, hepatitis juga banyak di- akibat – kan oleh rokok. Bahkan merokok juga dapat menyebabkan seorang penderita HIV lebih mudah terkena AIDS.Penurunan kekebalan tubuh pada perokok menjadi pencetus lebih mudahnya terkena AIDS sehingga berhenti merokok penting sekali dalam langkah pertahanan melawan AIDS.

berikut merupakan gambar akibat merokok yang dipublikasikan oleh badan kesehatan dunia.Gambar

 
Sumber :Rizmy Cycberstudent

Nah berikut ini…

Gambar

Nah berikut ini rekapan sandi yang lazim digunakan oleh POLRI.
Untuk “kasta” tertentu punya sandi yang MASIH RAHASIA.

Maksud dari kasta adalah :
- Reserse
- Intel
- Densus

SANDI ANGKA

* 1-1 : Hubungi per telepon
* 1-4 : Ingin bicara di udara (langsung)
* 3-3 : Penerimaan sangat jelek/orang gila
* 3-3L : Kecelakaan korban luka
* 3-3M : Kecelakaan korban material
* 3-3K : Kecelakaan korban meninggal
* 3-3KA : Kecelakaan kereta api
* 3-4-K : Kecelakaan, korban meninggal, pelaku melarikan diri
* 4-4 : Penerimaan kurang jelas
* 5-5 : Penerimaan baik/sehat
* 8-4 : Tes pesawat/penerimaannya
* 8-6 : Dimengerti
* 8-7 : Disampaikan
* 8-8 : Ingin berjumpa langsung
* 10-2 : Posisi/keberadaan
* 10-4 : Diterima <-masterfrans
* 10-4 : roger that <-entalpy
* 10-8 : Menuju
* 1-1-2 : Emergency / darudat <- dasardasar
* 2-8-5 : Pemerkosaan
* 3-0-3 : Perjudian <- The Predator
* 3-0-1: lagi kimpoi <- killerinhouse
* 3-3-8 : Pembunuhan
* 3-6-3 : Pencurian
* 3-6-5 : Perampokan
* 8-1-0 : Pembunuhan
* 8-1-1 : Hidup
* 8-1-2 : Berita agar diulangi (kurang jelas)
* 8-1-3 : Selamat bertugas
* 8-1-4 : Laporan/pembicaraan terlalu cepat
* 8-1-5 : Cuaca
* 8-1-6 : Jam/waktu
* 8-1-9 : Situasi
* 8-1-10 : Komandan <- Munyuk Mumet

 

SANDI HURUF

* Taruna : Berita
* Gelombang : Jam/waktu
* Semut : Pelajar
* Lalat : Mahasiswa
* Pangkalan : Rumah/kediaman
* Cangkulan : Kantor/tempat kerja
* Gajah : Derek
* Cicak = KPK <- pemulungs
* Komando : Kantor polisi
* Tikar : Surat
* Buntut tikus : Antena pendek (HT)
* Belalai gajah : Antena atas
* Bandeng : Mayat <- JasminJava
* Laka : Kecelakaan
* Jaya 65 : Kebakaran
* Timor Kupang Pati : Tempat Kejadian Perkara
* Timor Lombok Pati : Telepon
* Timor Kupang Ambon : TerKendali Aman
* Halong Timur : Handy Talky (HT)
* Halong Pati : Hand Phone (HP)
* Kupang Rembang : KendaRaan
* Kupang Ambon : Kereta Api
* Wilis Kendal : Walikota
* Kendal Cepu : KeCamatan
* Kendal Lombok : KeLurahan
* Rembang Wilis : RW
* Rembang Timur : RT
* Rembang Rembang : Serse
* Rembang Solo : Rumah Sakit
* Rembang Pati : Rupiah
* Anak Kijang : Pencuri/Tersangka
* Angkot cipayung-ciracas : T-14-Koperasi Wahana Kalpika <-andromedaelroza
* Ambon Demak : Angkatan Darat
* Ambon Lombok : Angkatan Laut
* Ambon Ungaran : Angkatan Udara
* Pati Medan : Polisi Militer
* Timor Medan : Tamu/Teman
* Lombok-Lombok : Lalu Lintas
* Timor Lombok : Lampu Lalu Lintas/Traffic Light
* Sepi : Senjata Api
* Sajam : Senjata Tajam
* Curat : Pencurian Dengan Pemberatan
* Curas : Pencurian Dengan Kekerasan
* Curanmor : Pencurian Kendaraan Bermotor
* Bandung Umar Solo : BUS
* Medan-Medan : Metro Mini
* Pati Demak Irian : Jam/Waktu
* Solo Medan Pati : Pelajar
* Solo Medan Ungaran : Mahasiswa
* Solo Timur Medan : Rumah/Kediaman
* Opak Kendal Jepara : Kantor/Tempat Kerja
* Opak Pati Solo : Derek
* Lombok Pati : Kantor Polisi
* Lombok Irian : Surat
* Lombok Demak : Antena Pendek (HT)
* Bandung-Bandung : Barang Bukti (BB)
* Bandung2 Padat : Makan
* Bandung2 Medan : Bahan Bakar Minyak
* Lampiran/Ambon : Istri
* Monik : Anak
* Solo Bandung : Stand By
* Solo Garut : SiaGa
* Medan Demak : Meninggal Dunia
* Pati Ambon Medan : Pengamanan
* Ambon Pati-Pati : Apel
* Palang Hitam : Mobil Jenazah
* Demak Pati Kendal : Dinas Pemadam Kebakaran
* wayang = intel+serse <-dwahyuagung
* panah = polantas

 

 

Sandi Pangkat Kesatuan

* Kresna : Presiden
* Bima : Wakil Presiden
* Timor Bandung I : Kapolri
* Metro I : Kapolda
* Timor I : Kapolres
* Jajaran 1 : Kapolsek
* Jajaran 2 : Wakapolsek
* Jajaran 3 : Serse
* Jajaran 4 : Sabhara
* Jajaran 5 : Bimas/Babinkamtibmas
* Jajaran 6 : Lantas/Lalu Lintas

Sumber : Kaskus

BIOLOGI LAUT

  1. 1.   PENDAHULUAN

 

1.1         Latar Belakang

Menurut Nontji(1987) dan Nyibakken(1992) dalam Chairil Anwar (2006), hutan mangrove adalah tipe huatan yang khas yang terdapat disepanjang pantai atau muara sungau yang dipengaruhi oleh pasang surut air laut. Mangrove tumbuh pada pantai-pantai yang terlindung atau pantai-pantai yang datar, biasanya disepanjang sisi pulau yang terlindung dari angin atau dibelakang terumbu karang dilepas pantai yang terlindung.

                        Lingkungan estuary merupakan kawasan yang sangat penting bagi berjuta hewan dan tumbuhan. Pada daerah tropis seperti di lingkungan estuary umumnya umumnya ditumbuhi dengan tumbuhan yang khas yang disebut mangrove. Tumbuhan ini mampu beradaptasi dengan genangan air laut yang kisaran salinitasnya cukup besar. Pada habitat mangrove inilah kita akan menemukan berjuta yang hidupnya sangat berantung pada lingkungan ini, sebagai lingkungan perairan yang mempunyaikisaran salinitas cukup besar, estuary mempunyai berjuta keunikan yang khas. Hewan-hewan yang hidup pada perairan ini adalah hewan yang mempu beradaptasi dengan kisaran salinitas tersebut, dan yang paling penting adalah lingkungan perairan estuary merupakan lingkungan yang sangat kaya akan nutrient yang menjadi unsur terpenting bagi pertumbuhan phytoplankton (Julyamil,2011).

                        Daerah pantai kaya akan berjenis-jenis organisme, walaupun demikian kehidupa disana menciptakan problema-problema. Hal ini dapat diperlihatkan oleh catatan yang ada pada kehidupan pantai yang berbatu-batu, misalnya organisme intertidal harus dapat menyesuaikan diri (atau menghindar dengan membuat lubang).Dalam hal yang paling serius adalah resiko kemungkinan besarnya cairan tubuh yang basah karena semua organisme yang hidup di pantai mempunyai permukaan tubub yang basah dan mempunyai sifat cepat kehilangan air akibat penguapan. Daerah ini juga berbahaya, karea kuatnya sinar dari pemanasan matahari dapat mengakibatkan suhu menjadi terlalu tinggi (Hutabarat sahala dan Stewart, 1985).

1.2      Maksud dan Tujuan

1.2.1 Maksud

Maksud dari praktikum biologi laut yaitu mengetahui spesies yang terdapat pada zona mangrove, zona intertidal. Pada zona estuary untuk mengetahui kadar Ph, suhu, salinitas, DO ( oksigen terlarut ) dan kecerahan pada suatu perairan.

1.2.2 Tujuan

Tujuan dari praktikum biologi laut yaitu dapat melakukan identifikasi spesies yang didapat dari zona mangrovedan intertidal, serta dapat melakukan pengukuran Ph, suhu,salinitas, DO (oksigen terlarut) dan kecerahan pada zona estuari.

1.3      Tempat dan Waktu

1.3.1  Tempat

Praktikum biologi laut dilaksanakan di pantai ngliyep, Malang

Selatan dan di Laboratorium IIP(ilmu-ilmu perairan), Fakultas Perikanan dan Ilmu kelautan, Universitas Brawijaya, Malang.

1.3.2  Waktu

Praktikum biologi laut dilaksanakan pada pukul 09.30 WIB

sampai 15.00 WIB di pantai Ngliyep, Malang selatan dann pada pukul 11.00 WIB sampai 13.30 WIB di Laboratorium IIP(Ilmu-ilmu Perairan),Fakultas Perikanan dan Ilmu kelautan, Universitas Brawijaya, Malang.

2. TINJAUAN PUSTAKA

 

2.1  Zonasi

2.1.1 Intertidal

  1. a.    Pengertian Zona Intertidal

            Daerah yang terletak diantara daratan dan lautan yang masih  dipengaruhi oleh air pasang dikenal sebagai pantai laut (seashore). Pada beberapa tempat, lereng pantanya mempunyai bentuk landai dan disini terdapat jarak yang besar antara tanda – tanda air pasang tertinggi dan air pasang terendah. Sedangkan ditempat lain dimana lereng pantainya berbentuk curam, tanda – tanda air pasangnya akan kelihatan saling berdekatan. Pada daerah pantai yang terdiri dari pasir atu kerikil yang bersih, mempunyai pengecualian karena daerah pasang surutnya (intertidal) dapat mendukung sejumlah besar dan berjenis – jenis organisme walapun tipe pantai yang berbeda cenderung untuk memupunyai sifa populasi sendiri (Hutabarat Sahala dan Stewart,1985).

                        Zona intertidal merupakan zona yang dipengaruhi oleh pasang surut air laut dengan luas area yag sempit antara daerah pasang tertinggi dan surut terendah. Pada zona ini terdapat varasi faktor lingkungan yang cukup besar seperti fluktuasi suhu, salinitas , kecerahan dan lain – lain. Varias ini dapat terjadi pada daerah yang hanya berjarak sangat dekat saja misalnya beberapa cm. Zona ini dihuni oleh organisme yang keseluruhannya merupakan organisme bahari (Nabilla, 2010).

  1. b.     Faktor – faktor di Zona Intertidal

            Menurut Indra (2011), faktor fisik dan biologis yang mempengaruhi keanekaragaman kehidupan pada perairan zona intertidal yaitu:

  1. Faktor fisik :
    1. Pasang surut
    2. Suhu
    3. Gerakan ombak
    4. Salinitas
    5. Substrat
    6. Faktor Biologis :
      1. Penyesuaian organisme terhadap lingkungannya
      2. Pemangsaan
      3. Penetapan dan tempat tinggal

Menurut Rahma (2010), kondisi lingkungan di zona intetidal biasanya dipengaruhi oleh faktor – faktor berikut:

  1. pasang surut
  2. suhu
  3. gerakan ombak
  4. salinitas
  5. faktor – faktor lain: adanya pasir, batu dan lumpur
  1. c.    Biota pada Zona Intertidal

Banyak spesies binatang pada intertidal yang mempunyai mekanisme dalam tubuhya untuk mencega terjadinya surut air. Mekanisme dalam tubuh mereka dapat berupa terstruktur, tingkah laku ataupun dua-duanya. Bernakel merupkan spesies yang paling dominan pada zona intertidal diseluruh dunia. Lemfet seperti Patella, Acmaea dan Collisella juga dominan pada intertidal yang berbatu(Nybakken, 1988).

Menurut Hutabarat dan Stewart (1985), pada daerah pantai yang terdiri dari pasir atau kerikil yang bersih mempunyai pengecualian karena daerah pasutnya dapat mendukung sejumlah besar dan berjenis – jenis orgnisme walau tipe pantai meruakan tempa yang sangat baikbagi hewan – hewan atau tumbuh – tumbuhan yang dapat menempelkan diri pada lapisan dan tumbuh – tumbuhan berukuran besar, cenderung didominan oleh jenis hewan infana (penggali lubang). Jeni pengali lubang plychaete dan moluska banyak dijumpai ada daerah ini.

2.1.2    Mangrove

  1. a.    Pengertian Zona Mangrove

Ekosistem mangrve didefinisikan sebagai mintakat pasut dan mintakat supra pasut dari pantai berlumpur dan teluk, goba dan estuarian yang didominasi oleh halofita (halophyta) yakni tumbuh – tumbuhan yang hidup di air asin, berpokok dan beradaptasi tinggi, yang berkaitan dengan anak sungai, rawa dan banjiran, bersama – sama dengan populasi tumbuh – tumbuhan dan hewan (Romimohtarto dan Juwana Sri, 2007).

Hutan mangrove mempunyai sifat yang khas dan komplek dan menjadi tempat hidup bagi berbagai jenis hewan mulai dari yang paling rendah (protozoa) sampai ke tingkat yang tinggi (vertebrata). Wilayah ini merupakan ekosistem peralihan atara darat dan laut serta menjadi mata rantai yang sangat penting tetapi rawan dalam menjaga kseimbangan siklus biologi di bumi (Burhannudin , 2010).

  1. b.     Biota pada Zona Mangrove

Menurut Mangrovecenter (2009), flora mangrove dibagi menjadi 2 kelompuk yaitu :

  1. Kelompok mayor : komponennya adalah pemisah taksonominya dari hubungan daratan dan hanya terjadi di hutan mangrove serta membentuk tegakan murni tetapi tidak pernah murni sampai kedalaman daratan contohnya adalah Avicennia, Bruguiera, Ceriops, Lagun dan Nypa.
  2. Kelompok Asossiasi Mangrove : dalam komponen ini jarang ditemukan spesies yang tumbuh di dalam komunitas mangrove yang sebenarnya dan kebanyakan sering ditemukan di dalam tumbuh-tumbuhan darat.

Menurut   Romimontarto (2001) dalam Zeny (2010), tumbuhan mangrove yang khas kebanyakan beradaptasi seperti yang telah diterangkan. Beberapa jenis seperti Avicennia hidup di habitat yang berair lebih asin sedangkan Nypa fructicans terdapat pada habitat yang berair lebih tawar. Beberapa hewan mangrove beradaptasi hidup melekat pada akar Rhizopora dan Bruguiera. Bersama mereka biasanya terdapat masyarakat kecil terdiri dari keong, kerang, kepiting, udang, teritip, isopoda, cacing, sepon dan ikan.

  1. c.    Susunan Tanaman dari Perairan ke Daratan di Mangrove

            Komposisi flora yang terdapat pada ekosistem mangrove ditentukan oleh beberapa factor penting seperti kondisi jenis tanah dan genangan pasang surut. Di pantai terbuka pohon perintis(pionir) umumnya adalah api-api(Avicennia) dan pedada(Sonneratia). Api-api cenderung hidup pada tanah yang berlumpur lembut. Pada tempat yang terlindung dari hempasan ombak komunitas mangrove terutama Biunnguli oleh bakau Rhizopora mucronata atau Rhizopora apiculata lebih ke arah daratan pada tanah lempung yang agak pejal dapat ditemukan komunitas Bruguiera gymnorhiza, sejenis paku laut dari jeruju seringkali dapat ditemukan di daerah pinggiran pohon-pohon mangrove sebagai tumbuhan bawah. Nipa merupakan jenis palma yang juga merupakan komponen mangrove yang acap kali ditemui di tepi sungai ke hulu(Nontji, 1987 dalam Citra, 2011).

            Pada tempat yang terlindung dari hamparan komunitas mangrove terutama diungguli oleh bakau Rhizopora mucronataatauApiculata. Lebih ke arah daratan pada tanah lempung yang agak pejal dapat ditemukan komunitas Bruguiera gymnorhiza, sejenis paku laut dari jeruju seringkali dapat ditemukan di daerah pinggiran pohon-pohon mangrove sebagai tumbuhan bawah. Nipa merupakan jenis palma yang juga merupakan komponen mangrove yang acap kali ditemui di tepi sungai ke hulu(Russady, 2010).

  1. d.    Manfaat Ekosistem Mangrove

            Salah satu manfaat hutan mangrove adalah menyediakan sejumlah makan dari unsur hara bagi spesies hewan laut termasuk yang memiliki arti ekosistem penting, Unsur organism yang telah mati dan diuraikan oleh mikroorganisme. Peran dan manfaat hutan mangrove antara lain pelindung alami yang paling kuat dan praktis untuk menahan erosi pantai, menyediakan berbagai hasil kehutanan seperti kayu bakar, alcohol, gula, bahan atap, bahan perahu dan lain-lain. Sebagai tempat hidup dan berkembang biak udang, burung, monyet, buaya dan satwa liar lainnya yang diantaranya endemic serta mempunyai potensi wisata. Fungsi biologi hutan mangrove sebagai habitat satwa liar, sebagai tempat berkembang biak (nursery groung). Jenis-jenis ikan, udang, kepiting. Fungsi sosial ekonomi hutan mangrove yaitu merupakan habitat ikan, udang kepiting. Serta nilai ekonomi, maka masyarakat memanfaatkan sebagai mencari nafkah dan memenuhi sebagian kebutuhan hidupnya(Citra, 2011).

            Hutan mangrove mempunyai fungsi yang sangat penting dalam ekositem pantai yaitu sebagai penyambung dan penyeimbang ekosistem darat dan laut. Secara ekonomi hutan mangrove berperan dalam berbagai kegiatan ekonomi masyarakat pesisir. Secara ekologis mangrove berperan sebagai daerah pemijahan dan pembesaran berbagai macam hewan (Nugroho, 2010).

  1. e.    Kebijakan Hutan Mangrove di Indonesia

            Menurut BPHMN(2009) dalamCitra(2007), Balai Pengolahan Mangrove Wilayah (BPHMW) institusi baru didalam jajaran direktoral jendral Rehabilitasi lahan dan perhutanan social departemen kehutanan sejak diterbitkannya peraturan menteri kehutanan nomor P.04/ MENHUT/2007 tangal 6 Februari 2007 keberadaan institusi BPHn, diharapkan dapat menjadi fasilitator dalam terwujudnya penyelengaraan pengelolaan mangrove yang berorientasi pada aspek ekologis social dan pemanfaatan lestari hutan mangrove. Hal tersebut sangat bertautan erat dengan telah makin beratnya tingkat kerusakan hutan mangrove di Indonesia, khususnya wilayah kerja BPHMI.UU no. 41 Tahun 1999 tentang kehutanan telah menngingatkan bahwa pengelolaan dan pelestarian Hutan sebagai salah satu bagian terpenting dari lingkungan adalah mutlak dan wajib dilakukan. Pasal1 ayat 8-9 UU No. 41 Tahun1999 tentang kehutanan menyatakan : Hutan lindung adalah kawasan hutan yang mempunyai fungsi pokok sebagaai pelindung sistem penyangga kehidupan untuk mengatur tata air, mencegah banjir, mengendalikan erosi, mencegah infrasi air laut, dan memelihara kesuburan tanah (Ferto,2007).

  1. f.     Rantai Makanan di Mangrove

            Mangrove dapat tumbuh dan berkembang secara maksimum dalam kaondisi dimana terjadi kondisi penggenangan dan sirkulasi air permukaan yang menyebabkan pertukaran dan pergantian sedimen secara terus menerus, sirkulasi yang tetap (terus menerus) meningkatkan pasokan oksigen dan nutrien untuk respirasi dan produksi yang dilakukan oleh tumbuhan(Dahuri,1999).

            Menurut Zamroni dan Rahyani dalam  Nugraha(2010) serasah mangrove berupa daun, ranting, dan biomassa lainya yang jatuh dan menjadu sumber pakan berbagai hewan dan sekeligus menjadi unsur hara yang berperan dalam produktivitas perikanan laut. Produksi serasah  merupakan bagian penting dalam transver bahan oraganik dari vegetais kedalam tanah. Unsur hara dihasilkan dari proses dekomposisi serasah didalam tanah sanagat penting dalam pertumbuhan mangrove dan sebagai sumber detritrus bagi ekosistem laut dan estuari dalam menyokong kehidupan organisme akuatik.

2.1.3    Estuaria

  1. a.    pengertian Zona esturia

            Daerah estuaria adalah daerah peraliahan antara air laut dengan sungai dengan salinitas yang lebih rendah dari laut dan sedikit kebih tinggi dari perairan tawar , pada zona peralihan ini lah terjadi percampuran air laut dan sungai. Pola percampuran ini sangat dipengaruhi oleh topografi dari pantai itu sendiri dan sudah barang tentu pola percampurannya memberikan klasifikasi yang berbeda pula terhadap estuari itu sendiri (Russady,2009).

            Estuari adalah teluk di pesisir yang sebagian tertutup, tempat air tawar dan air laut bertemu dan bercampur. Kebanyakan estuari ini didominasi oleh substrat berlumpur. Substrat berlumpur ini kaya akan bahan organik. Bahan organik inilah yang menjadi cadangan makanan yang besar bagi organisme estuaria(Dahuri,1999).

  1. b.    Biota pada Zona Mangrove

            Menurut Nyabakken(1988) dalam Zeny(2010),genera daratan yang diminan termasuk suceietoneme, asterionelle, nitzchia, thallassronema dan melsestreria. Genera dinoflagellata yang melimpah termasuk gymnodinium, gonyaulax, perdinium dancerilium. Zooplankton estuaria yang khas meliputi spesies dara genera copepoda, euritemora, actaria, psudodpotomus, dan contropages, misid tertentu misalnya spesies dari genera miomyses praunus dan mesopodosis dan aintipoda tertentu misalnya spesies dari grammarus.

            Ada tiga komponen fauna di estuaria yauit fauna lautan, fauna air tawar dan payau atau estuaria. Komponen fauna yang tersebar didominasi oleh fauna lautan yaitui hewan stenohaline yang terbatas kemampuannya dalam mentolelir perubahan salinitas yaitu hanya mampu mentolelir sampai 30 0/00 dan hewan eurihaline, hewan khas laut karena mampu mentolelir perubahan salinitas hingga dibawah 30/00? (Nyabakken,1988 dalam Dahuri 1999).

Menurut Hutabarat dan Stewart (1995), akibat dari penurunan salinitas pada estuari secara bertahap maka timbullah suatu mintakat (wilayah) dari flora dan fauna yang hidup pada estuarian. Mintakat tersebut dibagi menjadi 3 spesies crustacea Gammarus yang hidup di salah satu daerah esturian yang terdapat di Inggris.Gammarus locustus hidup dekat pada bagian mulut esturin dimana airnya hampir asin dan selanjutnya ke arah hulu dihuni oleh Gammarus zaddachi dan akhirnya Gammarus pulex hidup pada wilayah hulu sungai (air tawar).

2.2      Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kehidupan Organisme dan Keanekaragaman Populasi

2.2.1.   Intertidal

Menurut Indra (2011), faktor fisik dan biologis yang mempengaruhi keanekaragaman kehidupan perairan zona intertidal yaitu :

  1. Faktor fisik (diberi a.b.c…. jangan gambar2)
    1. Pasang surut          : Menyebabkan adanya perbedaan suhu

dan pergerakan naik turunnya air laut yang menyebabkan organisme yang tinggal pada daerah ini harus menyesuaikan diri yang  ekstrim.

  1. Gerakan ombak        :Gerakan ombak dapat mempengaruhi

keanekaragaman kehidupan organisme-organisme yang tidak memiliki kekuatan untuk melekat pada zona ini.

  1. Salinitas                     :Salinitas pada zona ini akan

berfluktuasi yang akan menyebabkan terganggunya sistem penyesuaian dari organisme.

  1. Substrat                      :Di daerah ini terdapat tiga substrat yaitu

batu, pasir dan lumpur.

  1. Faktor biologis
    1. Penyesuaian organisme terhadap lingkungannya karena organisme yang hidup di daerah ini harus memiliki sistem/alat tubuh khusus.
    2. Pemangsaan, karena peristiwa makan-memakan ini dapat menyebabkan jumlah dan kelestarian suatu species dalam zona intertidal.
    3. Penempatan dan tempat tinggal karena tempat tinggal suatu organisme dapat menjadikan suatu organisme dapat bertahan.

Menurut Rahma (2010), kondisi di zona intertidal dipengaruhi oleh faktor-faktor berikut :

  1. Pasang surut merupakan faktor yang penting mempengeruhi kehidupan di zona intertidal.
  2. Suhu, pasang surut terjadi ketika suhu udara minimum atau suhu udara maksimum, batas letal dapat terlampaui dan organisme dapat mati. Kisaran suhu ekstrem menyebabkan organisme semakin lemah.
  3. Gerakan ombak, pengaruh mekanik antara lain menghancurkan dan menghanyutkan benda. Memperluas zona intertidal. Mencampur atau mengaduk gas ke dalam air yang akan meningkatkan kandungan oksigen.
  4. Salinitas, perubahan salinitas mempengaruhi organisme intertidal meliputi zona intertidal saat pasut kemudian digenangi air, salinitas turun. Salinitas tinggi jika terjadi penguapan saat siang hari.
  5. Faktor-faktor lain seperti adanya pasir, batu dan lumpur.

2.2.2.   Mangrove

Faktor-faktor lingkungan yang mempengaruhi zona mangrove adalah faktor fisik yang diterangkan yaitu pasang surut.Kisaran pasang surut dan tipenya bervariasi bergantung pada keadaan geografi bakau.Mangal berkembang hanya pada perairan dangkal dan daerah intertidal, sehingga sangat dipengaruhi oleh pasang surut.Pasang surut dan kisaran vertikalnya yang membedakan periodesitas penggenangan hutan.Periodesitas penggenangan ini kelihatannya penting dalam membedakan kumpulan bakau yang dapat tumbuh pada suatu daerah dan mungkin berperan dalam membedakan tipe-tipe zonasi (Russady, 2010).

Menurut anynomous(2009) dalam Russady(2010), beberapa faktor lingkungan fisik adalah:

  1. Jenis tanah
  2. Terpaan ombak
  3. Penggenangan oleh air pasang

  2.2.3 ESTUARI

Menurut Hutabarat dan Evans (1985) ada 4 faktor yang dipercaya yang menyebaban daerah ini mempunyai nilai produktivitas tinggi yaitu :

  1. Disana tempat suatu penambahan bahan-bahan organik secara terus-menerus yang berasal dari daerah aliran sungai.
  2. Perairan estuarian umumnya adalah dangkal, sehingga cukup menerima sinar matahari untuk menyokong pertumbuhan tumbuh-tumbuhan yang sangat banyak.
  3. Daerah ini merupakan tempat yang relatif kecil menerima aksi gelombang, akibatnya detritus dapat menumpuk didalamnya dan.
  4. Aksi pasang selalu mengaduk bahan-bahan organik yang berbeda disekitar tumbuh-tumbuhan.

Jumlah organisme yang menghuni estuari jauh lebih sedikit jika dibandingkan dengan organisme yang hidup diperairan tawar atau laut. Sedikitnya jumlah spesies ini disebabkan oleh fluktuasi kondisi lingkungan, terutama fluktuasi salinitas yang sangat besar sehingga hanya beberapa spesiaes saja yang mampu bertahan hidup di estuaria. Selain miskin dalam jumlah organisme, estuaria juga miskin akan flora. Perairan estuaria sangat keruh sehingga tumbuhan mencuat saja yang dapat tumbuh (Dahuri, et al, 1999).

2.3 Kualitas Air

2.3.1 PH

PH adalah cerminan dari derajat keasaman yang diukur dari jumlah ion hidrogen menggunkan rumus umum PH = -log (H+). Air murni terdiri dari ion H+ dan OH- dalam cairan makin rendah ion H+ dan makin tinggi PH, cairan demikian disebut cairan alkalis. Sebaliknya makin banyak ion H+ makin rendah PH dan cairan terrsebut bersifat masam. Nilai PH terletak antara 1-14 dengan PH = 7 sebagai nilai netral. Air laut biasa bersifat alkalis dengan PH lebih rendah dari 7 dan bersifat masam (Andayani, 2005).

PH adalah derajat keasaman yang digunakan untuk menyatakan tingkat keasaman atau kebiasaan yang dimiliki oleh suatu larutan. Ia didefinisikan sebagai logaritma aktifitas ion hidrogen (H+) yang terlarut (Wikipedia, 2011).

2.3.2 SUHU

Suhu adalah besaran yang menyatakan derajat panas atau dingin suatu benda dan alat yang digunakan untuk mengukur suhu adalah thermometer. Dalam kehidupan sehari-hari masyaraktat untuk mengukur suhu cenderung menggunakan indra peraba. Tetapi dengan adanya perkembangan teknologi maka diciptakanlah thermometer untuk mengukur suhu dengan falid (Anto, 2008).

Suhu adalah pernyataan tentang perbandingan (derajat) panas suatu zat.Dapat pula dikatan sebagai ukuran panas atau dinginnya suatu benda (Arianto, 2008).

 

2.3.3 SALINITAS

Salinitas atau kadar garam ialah banyaknya garam-garam (dalam gram) yang terdapaat dalam satu kilogram (100 gram) air laut yang dinyatakn dengan perseribu. Salinitas umumnya stabil, walaupun dibeberapa tempat terjadi fluktuasi.Laut mediterania dan laut merah mencapai 39 perseribu – 40 perseribu yang disebabkan banyak penguapan, sebaliknya dapat turun dengan drastic juka hujan turun. Laut akan memiliki kadar garam yang rendah banyak dijumpai di daerah-daerah yang banyak muara sungainya. Pada musim barat, laut di asia tenggara mulai dari bulan desember/mei diteluk Thailand dan bagian timur laut pantai Sumatra mempunyai nilai kadar garam rendah (Devoav, 1997).

Salinitas adalah tingkat keasinan atau kadar  garam terlarut dalam air. Salinitas juga dapat mengacu pada kandungan garam dalam tanah.Kandungan garam pada sebagian besar danau, sungai dan saluran air alami sangat kecil sehingga air ditempat ini dikatagorikan sebagai air tawar. Kandungan garam sebenarnya pada air ini secara definisi kurang dari 0,05%. jIka lebih dari itu, air dikatagorikan sebagai air payau atau menjadi saline bila konsentarasinya 3-5% lebih dari itu disebut brine (Darmadi, 2010).

2.3.4 DO

Oksigen terlarut (dissolved oxygen = DO) merupakan salah satu peubah mutu air yang mampu mempengaruhi peubah lain. Konsentrasi karbondioksida dan PH harian air tambah berubah-ubah sesuai dengan konsentrasi oksigen terlarut.Pada gilirannya perubahan PH mempengaruhi keseimbangan reaksi amenia (NH4+NH3) dan senyawa sulfide (Andayani, 2005).

DO atau bisolved oksigen atau oksigen terlarut adalah parameter kimia yang menunjukkan banyaknya oksigen yang terlarut dalam ekosistem perairan (Arianto,2008).

            2.3.5 Kecerahan

                        Kecerahan air laut ditentukan oleh kekeruhan air laut itu sendiri dari kandungan sedimen yang dibawa oleh aliran air. Air laut juga menampakkan warna yang berbeda-beda tergantung pada zat-zat organik maupun anorganik yang ada (Devoav,2009).

                        Kecerahan adalah parameter fisika yang erat kaitannya dengan proses fotosintesis pada suatu ekosistem perairan kecerahan yang tinggi menunjukkan daya tembus cahaya matahari yang jauh ke dalam perairan begitu juga sebaliknya (Arianto,2008).

3. METODOLOGI

3.1 Alat dan Bahan

3.1.1 Fungsi alat

Alat – alat yang digunakan dalam praktikum Biologi Laut                 yang dilakukan dilapangan adalah sebagai berikut :

  1.  Zona Mangrove

Adapun alat yang digunakan pada praktikum biologi laut di lapang pada zona mangrove antara lain :

1.Cetok                : untuk mengambil biota yang ada dalam transek.

2.Kamera digital : untuk mengambil gambar biota yang didapat.

3.Ember               : sebagai tempat alat dan bahan biota yang      diambil.

4.Transek            : sebagai alat yang digunakan untuk menentukan letak biota.

  1. b.    Zona Estuaria

Adapun alat yang digunakan pada praktikum biologi laut di lapang pada zona estuari antara lain :

  • Kecerahan
  1. Tali                              : sebagai penghubung sechidisk dan alat penanda kecerahan

  perairan

  1. Sechidisk                  : untuk mengukur kecerahan dalam zona estuaria
  2. Tongkat skala           : berfungsi untuk mengukur ketinggian dari kecerahan perairan
  • Salinitas
  1. Pipet tetes                       : untuk mengambil sample air yang akan diukur salinitasnya.
  2. Refraktometer     : untuk mengukur salinitas.
  3. Washing Bottle   : untuk tempat aquadest.
  4. Bottle                    : sebagai wadah dari zat cair yang akan diuji salinitasnya.
  • DO

1.Statif                              : sebagai penyangga panjang buret.

2. Botol DO                      : sebagai tempat sampel air yang akan diukur kadar oksigennya  dipermukaan, dasar, dan tengah.

3.Buret                             : sebagai tempat titrasi.

4.Selang                          : untuk mengambil cairan bening

5.Water sample  r           : untuk tempat botol DO

6.Pipet tetes                    : untuk mengambil larutan dalam jumlah kecil.

7.Corong                         : untuk mempermudah memasukkan bahan kedalam buret.

8.Ember                           : untuk meletakkan alat dan bahan.

9.Kamera Digital            : untuk mengambil gambar profil estuari.

  • Suhu

1.Termometer Hg           : untuk mengukur suhu di perairan estuari.

  • pH

1.Kotak standart Ph       : sebagai alat untuk mengidentifikasi pH yang diperoleh.

  1. Zona Intertidal

Adapun alat yang digunakan pada praktikum biologi laut di lapang pada zona intertidal antara lain :

    1. Cetok                          : untuk mengambil biota yang ada dalam transek.
    2. Kamera digital          : untuk mengambil gambar biota yang didapat.
    3. Ember                                    : sebagai tempat alat dan bahan biota yang diambil
    4. Transek                      : sebagai alat yang digunakan untuk menentukan letak biota
    5. Seser                          : untuk mengambil biota di daerah intertidal
    6. Tali rafia                     : sebagai sampel panjang pantai 25 meter
    7. Selang aerator          : untuk mencari titik keseimbangan antara tali rafia dan tongkat skala
    8. Tongkat Skala          : untuk mengukur kedalaman air laut pada zona intertidal

 

3.1.2 Fungsi Bahan

  1. Zona Intertidal

Bahan-bahan yang digunakan dalam praktikum biologi laut di zona intertidal adalah :

  • Kertas label : untuk menandai plastic bening.
  • Air laut : untuk media hidup biota yang di temukan.
  1. Zona estuary

Bahan-bahan yang digunakan dalam praktikum biologi laut di zona estuary adalah :(setiap akhir kalimat di beri titik)

  1. Pengukuran DO perairan dan titrasi
  • MnSO4 : untuk mengikat O2 dalam air di dalam botol DO.
  • NaOH + KI : mengkondisikan basa, membentuk endapan coklat dan mengikat I2.
  • H2SO4 : untuk mengkondisikan asam.
  • Amilum : untuk indikasi basa dan indicator ungu.
  • Na2S2O3 : untuk larutan pentitrasi.
  1. Pengukuran pH perairan
  • pH paper : untuk mengukur pH perairan.
  • Air : bahan yang akan di ukur pH-nya.
  1. Pengukuran salinitas
  • Air : bahan yang akan di ukur salinitasnya.
  • Aquadest : untuk mengkalibrasi refraktometer.
  • Tissue : untuk membersihkan kaca prisma refraktometer.
  1. Pengukur kecerahan
  • Air : untuk media saat pengukuran kecerahan.
  • Kertas A4 : untuk mencata hasil pengamatan.
  1. Pengukuran suhu
  • Air : bahan yang akan di ukur suhunya.
  • Kertas A4 : untuk mencatat hasil pengamatan.

    3.2 Prosedur kerja
    3.2.1 Pengambilan biota di zona intertidal ( Transek kuadrat )

    3.2.2 Pengambilan biota mangrove

    3.2.4  Pengukuran Kelandaian Pantai 

    3.2.5   Profil Pantai

    4.1.5   Profil pantai, estuari dan mangrove

                a. profil pantai

     

     

     

                b. profil estuari

     

     

     

     

     

     

                c. profil mangrove

     

     

    4.1.6   Hubungan Tinggi dengan Panjang pada Kemiringan Pantai

     

    Pasir pantai

    Tali rafia 20 m

     

    • Perhitungan Kelandaian

    Tan  =  

     

                = 

     

          = 0,06

     

        = 3,4

     

     

     

     

    • Panjang kemiringan pantai

     

        =

     

      = 

     

      = 

     

    =  18,04 m

    4.2 Analisa Hasil dan Prosedur

    4.2.1 Mangrove

    a. Analisa Prosedur

    Hal pertama yang dilakukan yaitu dipersiapkan alat dan bahan yang akan digunakan. Alat yang digunakan yaitu belt transek (1x1m), cetok, ember, kamera digital, alat tulis dan seser. Bahan yang digunakan antara lain kertas label, kantong plastik dan karet gelang. Belt transek yang digunakan sebelumnya ditentukan dulu letak stasiun satu sampai dengan lima. Setelah diketahui letak yang nantinya biotanya dimati, diletakkan stasiun 1 sampai stasiun 5 sesuai stasiun yang telah ditentukan. Kemudian digali tanah menggunakan cetok jika biota tersebut bersembunyi dalam tanah. Jika tempat yang ditentukan tersebut pada air maka menggunakn seser untuk menangkap biota yang ada pada transek tersebut.

    b. Analisa Hasil

    Berdasarkan hasil pengamatan pada zona mangrove didapatkan hasil pada stasiun 1 transek 1 didapatkan tiga biota zona mangrove yaitu kepiting yang berukuran kecil, agak kecil dan sedang. Pada stasiun 1 transek 2 didapatkan kepiting berukuran agak kecil dan sedang.

    Pada stasiun 1 transek 3 didapatkan satu kepiting. Pada stasiun 1 transek 4 didapatkan kepiting dengan berukuran besar. Pada stasiun 1 transek 5 didapatkan ikan gelodok. Beberapa hewan mangrove tersebut ditemukan habitatnya beradaptasi dengan melekat dengan akar pohon.

    Seperti yang ditemukan pada zona mangrove, kepiting dan ikan gelodok beradaptasi dengan melekat atau menempel dan bertempat tinggal di akar pohon mangrove yang merupakan spesies utama pada zona mangrove. Hal ini sesuai dengan pendapat Romimontarto (2001) dalam Zeny (2010) yang menyatakan bahwa beberapa hewan mangrove beradaptasi hidup melekat pada akar rizopora dan bruguiera. Bersama mereka biasanya terdapat masyarakat kecil terdiri dari keong, kerang, kepiting, udang, teritip, isopoda, amphipoda, cacing, sepon dan ikan.

    ZONA MANGROVE

                                                                            STASIUN 1

     

    Analisis grafik

    Dapat disimpulkan dari grafik tersebut bahwa spesies paling banyak terdapat pada transek 1 yaitu 3 spesies.

    4.2.2 Pantai

    a. Analisa Prosedur

                Pada praktikum biologi laut di pantai tepatnya di zona intertidal,yang harus dilakukan terlebih dahulu yaitu dipersiapkan alat dan bahan yang digunakan. Alat yang digunakan antara lain transek kuadrat (1x1m), cetok, tongkat skala, kamera digital, alat tulis, ember, selang aerator dan seser. Bahan yang digunakan antara lain tali raffia, kantong plastik 1 kg, karet gelang dan kertas label. Langkah selanjutnya setelah dipersiapkan alat dan bahan, transek kuadrat berukuran (1x1m) dilihat terlebih dahulu apakah dalam kondisi baik. Kemudian transek kuadrat diletakkan di pinggir pantai terlebih dahulu pada tempat yang telah disediakan. Kemudian ditentukan stasiun 1 sampai dengan stasiun 10 dengan diloncati satu stasiun, pergantian stasiun satu ke stasiun yang lainnya sampai ke stasiun sepuluh. Pergantian stasiun tersebut sampai menuju ke bagian agak dalam dari pantai. Kemudian dilakukan penggalian tiap transek 1, 3, 6, 8, 10 ntuk mendapatkan biota laut pada masing-masing stasiun. Kemudian biota-biota tersebut di ambil dari masing-masing stasiun. Selanjutnya biota tersebut dimasukkan dalam kantong yang selanjutnya diikat menggunakan karet gelang. Biota yang sudah dimasukkan dalam kantong plastik tersebut diberi kertas label agar tidak tertukar dengan yang lain. Didapatkan hasil.

    b. Analisa Hasil

                Berdasarkan hasil pengamatan zona pantai didapatkan hasil yaitu pada stasiun 2 transek 3 didapatkan spesies Bellerocheahorologicalis sebanyak satu spesies, pada stasiun 7 transek 5  ditemukan lumut coklat yang termasuk dalam spesies Chandruscisprus yang bercirikan warna coklat kemerahan dengan pajang antara 10cm sampai 1 meter. Stasiun 8 transek 5 di temukan spesies yang sama dengan stasiun 7 transek 5 yaitu Chandruscisprus  yang memiliki ciri-ciri sama. Stasiun 9 transek 1 ditemukan undur-undur laut yang bercirikan memiliki bentuk seperti kumbang dengan 2 capit berukuran kecil pada bagian belakang dan 2 capit besar pada bagian depan, terdapat 2 garis yang terletak di tengah tubuh secara vertical, terdapat dua uropot dan dua antena pada bagian depan tubuh berwarna putih kekuningan dengan mata terletak di sekitar kepala. Stasiun 10, transek 5 didapatkan lumut merah yang termasuk dalam spesies Euchemadenticulatum dengan bercirikan warna merah dan memiliki duri yang berderet yang membentuk ruas-ruas.

                Dari hasil pengamatan tersebut dapat disimpulkan bahwa spesies yang paling banyak ditemukan adalah sejenis alga yaitu alga merah dan coklat. Alga ini ditemukan dalam kondisi yang masih segar karena pada waktu diambil dari zona intertidal, air masih menutupi bagian seluruh tubuh tersebut, tapi apabia air surut maka alga ini akan terlihat kering dan mudah sekali rapuh. Hal ini diperkuat oleh pendapat Nybakken (1988) yang menyatakan mekanisme sampel yang dapat kita lihat pada bagian zona intertidal adalah alga seperti porifera dan enteromorpha.

     Tanaman tersebut tidak mampu bergerak dan tidak mempunyai mekanisme untuk melindungi dirinya dari air yang surut. Spesies dari alga ini ditemukan pada kedaan kering dan rapuh ketika air mulai surut. Setelah air mulai kembali normal dengan cepat mekanisme tubuh mereka kembali normal.

    ZONA INTERTIDAL

    TRANSEK 1

     

                                                                                           

                                

     

     

     

     

     

     

    TRANSEK 2

     

                                                                                                     

     

    TRANSEK 3

     

     

     

     

     

     

     

     

     

    TRANSEK 4

     

     

    TRANSEK 5

     

     

    Analisa grafik

    Zona intertidal

    Dapat disimpulkan dari grafik tersebut bahwa jumlah biota paling banyak pada transek no.5.

     

     

     

    4.2.3     Estuaria

    A. Analisa Prosedur

    Langkah pertama yang dilakukan pada praktikum Biologi laut zona estuari yaitu dipersiapkan alat dan bahan yang akan digunakan. Alat-alat yang digunakan antara lain termometer, sechdisk, kotak standart PH, water sampler, refraktometer, botol DO, kamera digital, pipet tetes, alat tulis dan ember. Setelah dipersiapkan alat dan bahan, melakukan pengukuran kualitas air, antara lain :

    1. pH

    Untuk mengukur PH suatu perairan menggunakan PH paper.PH paper dicelupkan dalam perairan, kemudian ditunggu sampai 2-3 menit.Setelah itu PH paper dikibas-kibaskan sampai setengah kering.Kemudian PH paper dicocokkan dengan parameter warna yang terdapat pada kotak standar. Maka akan didapatkan PH perairan.

     

     

    1. Suhu

    Untuk mengukur suhu suatu perairan, alat yang digunakan yaitu termometer. Termometer tersebut dimasukkan dalam perairan yang akan diukur suhunya dengan mengarahkan termometer membelakangi datangnya cahaya matahari. Setelah selesai mengukurnya, termometer ditunggu 2-3 menit, kemudian dicatat suhunya yang tertera pada skala termometer.Selanjutnya termometer diangkat dari perairan.

     

     

    1. Oksigen terlarut

    # Di lapangan

    Untuk mengukur oksigen terlarut yang terdapat langsung pada zona estuari alat yang digunakan yaitu water sampler.Pertama, water sampler dibuka bagian tutupnya, kemudian disiapkan botol DO yang berfungsi mengambil oksigen terlarut dalam perairan.Kemudian botol DO tersebut dimasukkan dalam water sampler. Selanjutnya dibuka tutup botol DO yang kemudian diletakkan disamping botol DO.

                  Kemudian di tutup water sampler selanjutnya disambungkan selang pada tutup water sampler.Selanjutnya water sampler dimasukkan secara perlahan-lahan ke dalam perairan.Selang aerator yang disambungkan pada tutup water sampler diletakkan dekat telinga, sehingga ketika bunyi “Blub” dapat terdengar.Hal itu menandakan bahwa botol DO telah penuh.Kemudian ujung selang ditutup, water sampler diangkat perlahan ke permukaan kembali.Kemudian dibuka tutup water sampler, sedangkan botol DO ditutup.Botol DO diambil atau diangkat dari water sampler, kemudian dibolak-balik. Hal ini bertujuan agar tidak terjadi gelembung pada botol DO. Selanjutnya sampel yang telah diambil ditetesi dengan 2 mL larutan MnSO4 dengan tujuan mengikat oksigen.Selanjutnya ditambahkan lagi 2 mL NaOH + KI dengan tujuan membentuk endapan coklat serta melepas I2. kemudian dihomogenkan. Setelah itu diendapkan selama 30 menit. Kemudian tutup kembali botol DO.

                  Pada laboratorium, botol DO yang berisi sampel air diambil cairan beningnya untuk dibuang karena tidak dipergunakan.Selanjutnya ditetesi dengan 2 mL larutan H2SO4 yaitu sebagai indikator asam.Kemudian dihomogenkan.Setelah itu ditetesi dengan amilum sebanyak 2-4 mL dengan tujuan membentuk warna ungu serta pengkondisian basa.Kemudian dihomogenkan.Selanjutnya sampel diletakkan dibawah bikret yang berisi cairan Na2S2O3 yang berfungsi untuk mengikat I2 saat litrasi.Ditunggu cairan dengan ditetesi dibawah bikret sampai bening pertama kali. Selanjutnya dilihat Vo yang digunakan. Dihitung DO menggunakan rumus :

                 

    Kemudian didapatkan DO.

    1. Salinitas

    Untuk mengukur salinitas alat yang digunakan beruparefraktometer.Dibuka tutup yang ada pada refraktometer.Selanjutnya prisma refrakto pada refraktometer dikalibrasi dengan menggunakan aquadest.Selanjutnya dikeringkan menggunakan tissue.Hal ini dilakukan agar saat digunakan tidak terpengaruhi oleh pengukuran salinitas sebelumnya.Kemudian diteteskan air sampel yang telah diambil pada prisma refraktometer.Kemudian tutup refraktometer secara perlahan dengan kemiringan 45o agar tidak terjadi gelembung saat ditutup.Selanjutnya arahkan refraktometer pada arah datangnya cahaya datang.Dilihat dan diamati skala kanan untuk salinitas.Didapatkan salinitas perairan.

    1. Kecerahan

    Pada pengukuran kecerahan, langkah pertama yang harus dilakukan yaitu dipersiapkan alat dan bahan. Alat yang digunakan antara lain sechdisk dan tongkat skala, sedangkan bahan yang digunakan yaitu berupa karet gelang dan alat tulis. Setelah dipersiapkan alat dan bahan langkah selanjutnya yaitu diukur tingkat kecerahan perairan di estuari dengan mencelupkan sechdisk pada tempat yang mempunyai kedalaman paling dalam diantara tempat lain secara perlahan. Kemudian diamati sechdisk sampai tidak terlihat untuk pertama kali dicatat sebagai d1 dan ditandai dengan karet gelang.Kemudian perlahan sechdisk dicelupkan sampai dasar perairan.Setelah sampai dasar kemudian diangkat perlahan dan dicatat sebagai d2 ketika sechdisk terlihat untuk pertama kali, kemudian ditandai dengan karet gelang.Setelah selesai sechdisk yang telah diukur tadi, diukur ketinggian d1 dan d2 nya menggunakan tongkat skala, kemudian di catat.Dalam pengukuran dengan tongkat skala diusahakan dilakukan pengukuran pada tempat yang datar.

     

     

     

    B. Analisa Hasil

    • DO

                Berdasarkan pengamatan pada zona estuary didapatkan hasil yaitu pada saat perhitungan DO (Oksigen Terlarut), didapatkan DO pada permukaan perairan 9,3 mg/l, DO pada tengah perairan 3,41 mg/l, dan pada dasar perairan 4,06 mg/l.

    • Kecerahan

                Berdasarkan pengamatan pada zona estuary didapat hasil yaitu pada saat pengukuran kecerahan menggunakan secchidisk didapat hasil 35,5 cm. Berartitingkat kecerahan pada zona ini kurang sehingga biota yang tinggal hanya sedikit karena kondisi perairannya keruh, sehingga menyebabkan kurangnya sinar matahari yang masuk untuk fotosintesis. Hal ini diperkuat pendapat Oevoav (1997), pada perairan laut yang jernih dan menyatakan dalam fotosintesis tumbuhan mencapai 200 m, sedangkan jika keruh hanya mencapai 15-40 cm..

    • pH

                Berdasarkan hasil pengamatan pada zona estuari didapat hasil pH yaitu 8, karena estuary merupakan tempat bertemunya air laut dan tawar sehingga salinitas pun mengalami peningkatan. Hal ini diperkuat oleh pendapat Lekang (2007), air laut yang normal mempunyai nilai pH antara 7,3 sampai 8,3.

    • Suhu

                Berdasarkan hasil pengamatan pada zona estuari didapat hasil nilai suhu 30oC. Nilai suhu tersebut merupakan suhu yang baik untuk pertumbuhan ikan dalam perairan. Hal ini diperkuat oleh pendapat Burhannudin et,al (2010), bahwa suhu badan ikan ditempat yang sama berkisar 28-30,2oC dengan rata-rata 29oC.

     

    • Salinitas

                Berdasarkan hasil pengamatan pada zona estuari didapat hasil salinitas 25%0, maka digolongkan air payau. Hal ini diperkuat oleh pendapat Kinne (1961) dalam Burhannudin (2010) bahwa perairan dibagi jadi 4 golongan berdasarkan salinitasnya. Air dengan salinitas 0,5%0 adalah air tawar, salinitas 0,5-30%0 termasuk air payau, salinitas 30-40%0 digolongkan air laut.

    • Perhitungan DO

                Diketahui :     Vbotol DO permukaan           = 219 ml ; Ar O2

                                        Vbotol DO tengah       = 250 ml

                            Vbotol DO dasar                      = 250 ml

                            Vtitran  permukaan     = 10 ml

                            Vtitran  tengah             = 4,2 ml

                                        Vtitran  dasar                = 5 ml

                                        Ntitran                           = 0,025 N

                Ditanya :        a. DO perairan

                                        b. DO tengah

                                        c. DO dasar

                Jawab :         

                            DO perairan = 10×0,025x1000x8

                                                            219-4

                                                 = 9,3 mg/l

     

                            DO tengah   = 4,2×0,025x1000x8

                                                             250-4

                                                 = 3,41 mg/l

     

                            DO dasar     = 5×0,025x1000x8

                                                 250-4

                                                = 4,06 mg/l

     

     

    • Perhitungan Kecerahan

    Pengukuran dengan secchisdik

               

                Diketahui       : D1 =39 ; D2 = 32

                Ditanya          : Kecerahan (D)?

                Jawab                        : D = d1 + d2

                                                    2

                                              = 39 + 32

                                                                  2

                                                         = 35,5 cm       

     

    • Perhitungan Kelandaian

    Diketahui       : y = 1,08

                              x = 18

    Ditanya          : α ?

    Jawab                        : tan α = y/x

                              tan α = 1,08/18

                                       = 0,06

                                  α   = 3,4o

     

     

     

     

     

     

    5. PENUTUP

     

    5.1 Kesimpulan

         Adapun kesimpulan yang dapat diambil dalam praktikum biologi laut, yaitu :

    • Zona intertidal adalah zona yang dipengaruhi oleh pasang surut air laut. Faktor-faktor yang mempengaruhinya yaitu pasang surut, suhu, gerakan ombak, salinitas,substrat,  pemangsaan, penetapan dan tempat tinggal.
    • Zona mangrove adalah zona hutan bakau yang merupakan kelompok tumbuh-tumbuhan yang tumbuh di zona intertidal diantara permukaan laut dan pasang.
    •  Zona estuari adalah daerah peralihan antara laut dengan sungai dengan salinitas yang lebih rendah dari laut. Kualitasair bisa terlihat dari PH, suhu, salinitas, DO dan kecerahaan.
    • Dalam praktikum kali ini di dapat biota dari :
      • Zona mangrove : kepiting, tumbuhan dan ikan gelodok.
      • Zona estuari : tidak ada biota.
      • Zona intertidal : didapat sejenis lumut-lumutan dan undur-undur laut.
      • Dari hasil praktikum yang telah dilakukan didapatkan hasil pada zona mangrove yaitu biota berupa kepiting (Scylla scerata) ikan gelodok dan tumbuhan bakau. Kemudian untuk zona estuari didapat hasil PH=8, suhu=30o, salinitas=25o/oo, kecerahaan=3,41 mg/l, DO permukaan=9,3mg/l, DO tengah=3,41mg/l dan DO di dasar = 4,06mg/l. Kemudian pada zona intertidal didapat biota berupa lumut-lumutan yaitu lumut merah ,lumut coklat dan lumut hijau, dan undur-undur laut. Kelandaian 3,4o.

    5.2 Saran

                Sebaiknya dalam praktikum biologi laut yang diadakan dilapangan dikomando satu titik sehingga tidak membingungkan praktikan.

     

     

    DAFTAR PUSTAKA

     

    Andayani.2005.Zona Estuari. http://andayani.log.com . Diakses pada tanggal 10 Mei 2011 pukul 13.00 WIB. (jarak spasinya 1 spasi untuk 1 dapus, “10 mei” agak menjorok ke kanan berlaku untuk semuanya, kalo pengarangnya banyak di tulis semua tapi namanya ga usah di balik kecuali yang pertama, jangan di tulis et.al.,, jarak dari dapus 1 dan yang lain tetap 1,5 spasi, nama judul huruf tebal atau miring, kalu jurnal kalao ada identitas jurnalnya dicantumkan, nama pengarang harus lengkap)

    Anto. 2008. Suhu. http://aljabar.wordpress.com/008/04/07/suhu. Diakses pada tanggal 10  Mei 2011 pukul 13.00 WIB.

    Arianto. 2008. Pengertian Suhu. http://sobatbaru.blogsot.com/2008/04/pengertian_suhu.html. Diakses pada tanggal 10  Mei 2011 pukul 13.00 WIB.

    Burhannudin, et al. 2010. Sumber Daya Bahari. Lembaga Oseanologi Nasional: Jakarta.

    Chairil Anwar. 2007. Hutan Mangrove. Djambatan : Jakarta.

    Citra. 2011. Biota pada Zona Mangrove. http: citraomo.blogspot.mangrove.html. Diakses pada tanggal 10  Mei 2011 pukul 13.00 WIB.

    Dahuri, et al. 1999. Zona Estuari.UI-Press : Jakarta.(jangan pake et.al., ditulis semua namanya)

    Daradi. 2010. Salinitas Laut. http: dhamadharma.wordpress.com/2010/02/11/salinitas_laut. Diakses pada tanggal 10  Mei 2011 pukul 13.00 WIB.

    Devoav.1997. Mengetahui Kualitas Air. http://devoav.1997.webnode.om/news/megetahui_kualitas_air_lautnewscbm30419/40. Diakses pada tanggal 10  Mei 2011 pukul 13.00 WIB.

    Devoav.2009.http://devoav.1997.webnode.om/news/megetahui_kualitas_air_lautnewscbm30419/40. Diakses pada tanggal 10  Mei 2011 pukul 13.00 WIB.

    Ferto. 2007. Kebijakan Hutan Mangrove di Indonesia. http:ferto.blogspot.com. Diakses pada tanggal 10  Mei 2011 pukul 13.00 WIB.

    Hutabarat Sahala dan Stewart. 1985. Pengantar Oceanografi. UI-Press: jakarta.

    Indra. 2011. Faktor Fsik dan Biologis yang Mempengaruhi Keanekaragaman Kehidupan pada Perairan Zona Intertidal. http://kuliahkeren.blogspot.com/2011/04/faktor fisik dan biologis. Diakses pada tanggal 10  Mei 2011 pukul 13.00 WIB.

    Julyamil. 2011. Mangrove. Djambatan: Jakata.

    Mangrovecenter. 2009. Biota pada Zona Mangrove. http://citraomo.blogspot.mangrove.html. Diakses pada tanggal 10  Mei 2011 pukul 13.00 WIB.

    Nabilla. 2010. Zona Intertidal. http://nabilla.blogspot.com. Diakses pada tanggal 10  Mei 2011 pukul 13.00 WIB.

    Nugraha Wahyu. 2010. Prduksi Serasah (Guguran Daun) pada Berbagai Jenis Mangrove di Bangkalan. Jurnal.

    Nybakken. 1988. Marine Biology.

    Rahma. 2010. Faktor – faktor yang Mempengaruhi Zona Intrtidal. http://dlati4ever.blogspot.com/2010/05/kondisi_lingkungandi_zona_intertidal.html. Diakses pada tanggal 10  Mei 2011 pukul 13.00 WIB.

    Romimontarto Kasjian dan Sri Juwana. 2007. Biologi laut. Djambatan: Jakarta.

    Russady. 2010. Ekologi Perairan. http:my opera.com/russady RJ/2010/05/03/perikanan. Diakses pada tanggal 10  Mei 2011 pukul 13.00 WIB.

    Wikipedia. 2011. PH. http://id.wikipedia.org/wiki/11. Diakses pada tanggal 10  Mei 2011 pukul 13.00 WIB.

    Zeny. 2010. Biologi laut. http://zeyfapusy.com/2010/11/Biologi_Laut.html. Diakses pada tanggal 10  Mei 2011 pukul 13.00 WIB.

PEWARNAAN GRAM

  1. 1.    PENDAHULUAN

 

 

1.1      Latar Belakang

Pada tahun 1884, seorang bakteriologiwan Denmark secara kebetulan menemukan prosedur pewarnaan gram. Pewarnaan ini mungkin merupakan salah satu prosedur yang amat penting dan paling banyak digunakan dalam klasifikasi bakteri. Dengan metode ini, bakteri dapat dipisahkan secara umum menjadi dua kelompok besar yaitu 1)organisme yang dapat menajahan kompleks pewarna primer ungu kristal iodium sampai pada akhir prosedur (sel-sel tampak biru gelap atau ungu), disebut gram positive; 2) organisme yang kehilangan kompleks warna ungu kristal pada waktu pembilasan dengan alkohol namun kemudian terwarnai oleh pewarna tandingan, safranin (sel-sel tampak merah muda), disebut gram negative (Hadieotomo,1988).

Dalam bidang medis misalkan, masih dibutuhkannya sistem sterilisasi temperatur rendah yang mampu membasmi bervariasi mikroorganisme yang tergolong dalam gram negative bacteria, gram positive bacteria dan yeast. Bidang medis inilah bidang yang setiap saat mengalami kontaminasi oleh berbagai jenis bakteri dan yeast. Mikroorganisme ini menempati permukaan peralatan medis (health care facilities) pada hampir semua tempat dirumah sakit. Peralatan-peralatan tersebut kini banyak yang terbuat dari bahan-bahan yang tidak tahan terhadap termik seperti plastik, kertas, dll (Nufailah,et,al,2005).

Pada pewarnaan gram terdapat 2 jenis bakteri yaitu bakteri positive dan bakteri negative. Bakteri positive berwarna ungu karena didalamnya mengikat zat warna kristal ungu iodium. Sedangkan bakteri gram negative berwarna merah karena mengikat warna sekunder. Pada dinding sel bakteri gram positive dinding selnya tebal sedangkan pada bakteri gram negative dinding selnya tipis.

1.2      Maksud dan Tujuan

Maksud dengan adanya praktikum Mikrobiologi Dasar tentang pewarnaan gram agar praktikum dapat mengetahui jenis-jenis dari pewarnaan gram.

Tujuan dengan adanya praktikum Mikrobiologi Dasar tentang pewarnaan gram agar praktikan dapat mengetahui dan memahami perbedaan dari pewarnaan gram positive dan gram negative.

1.3      Waktu dan Tempat

Praktikum Mikrobiologi Dasar tentang pewarnaan gram dilaksanakan pada hari Jumat, tanggal 07 Oktober 2011 pukul 07.00 sampai 10.00WIB. Bertempatan di gedung A lantai I laboraturium Mikrobiologi Dasar, Fakultas Perikanan Dan Ilmu Kelautan, Universitas Brawijaya, Malang.

  1. 2.    TINJAUAN PUSTAKA

 

2.1 Pengertian dan Tujuan Pewarnaan

Menurut Waluyo (2008), tujuan dsari pewarnaan adalah :

  • Memudahkan melihat mikrobe dengan mikroskop
  • Memperjelas ukuran dan bentuk mikrobe
  • Melihat struktur dalam bakteri , seperti dinding sel dan vakuola
  • Menghasilkan sifat-sifat fisik dan kimia khas dari bakteri dengan zat warna

       Menurut Volk (1992), pewarnaan gram pada tahun 1884 seorang dokter berkebangsaan Denmark Christian gram membuat zat pewarna khusus yang barang kali terpenting penggunaannya dalam bakteriologi. Zat pewarna tersebut adalah pewarna dieferensial, karena dapat membagi bakteri sejati menjadi 2 kelompok fisiologi, dengan demikian sangat memudahkan identifikasi jenis.

2.2 Macam dan Fungsi Pewarnaan

Menurut Hadieotomo (1988), pewarnaan ini merupakan salah satu yang amat penting dan paling banyak digunakan dalam klasifikasi bakteri. Dengan metode ini, bakteri dapat dipisahkan secara umum menjadi dua kelompok besar, yaitu : 1) organisme yang dapat menajahan kompleks pewarna primer ungu kristal iodium sampai pada akhir prosedur (sel-sel tampak biru gelap atau ungu), disebut gram positive; 2) organisme yang kehilangan kompleks warna ungu kristal pada waktu pembilasan dengan alkohol namun kemudian terwarnai oleh pewarna tandingan, safranin (sel-sel tampak merah muda), disebut gram negative.

Menurut Volk (1992), pewarnaan mungkin merupakan salah satu prosedur yang paling banyak digunakan dalam klasifikasi bakteri. Ada 5 macam pewarnaan, yaitu : 1)Pewarnaan sederhana, memungkinkan untuk melihat bakteri dengan jelas, tetapi tidak dapat membedakan jenis-jenis bakteri yang berbeda dalam morfologi yang sama, 2)Pewarnaan tahan asam, untuk pewarnaan bakteri yang mengandung sejumlah besar besar zat lipoid (berlemak) didalam dinding selnya yang menyebabkan tidak permeabel terhadap zat warna yang umum, 3)Pewarnaan spora, untuk pewarnaan bakteri yang membentuk endospora yang tahan terhadap kondisi ekstrim sehingga dibutuhkan perlakuan yang keras, 4)Pewarnaan kapsul, 5)Pewarnaa negative, metode ini bukan untuk mewarnai bakteri tetapi mewarnai latar belakangnya hitam gelap.

2.3 Perbedaan Gram Positif dan Negatif, beserta contohnya

Menurut Hadioetomo (1988), diketahui bahwa komposisi dinding sel bakteri gram positive berbeda dengan bakteri gram negative. Dinding sel yang lebih yang tebal pada bakteri gram positive menyusul oleh perlakuan alkohol karena terjadi dehidrasi. Sedangkan sel-sel gram negative mempunyai kandungan lipid yang lebih tinggi pada dinding selnya dan lipid pada umumnya larut dalam alkohol dan aseton. Contoh dari gram positive adalah S.aureus dan gram negative adalah E.coli.

Perbedaan struktur dinding sel bakteri gram positive dan gram negative sehingga menyebabkan perbedaan reaksi dalam permeabilitas zat warna dan penambahan larutan pemucat. Sebagian besar dinding sel bakteri gram positive terdiri dari peptidoglikan, sedangkan dinding sel bakteri gram negative mempunyai kandungan lipida yang tinggi dibandingkan dinding sel bakteri gram negative (Lay,1994).

2.4 Mekanisme Penyerapan Zat Warna oleh Gram Positif dann Gram   Negatif

Ada kalanya, setelah suatu preparat yang sudah meresap suatu zat warna, kemudian dicuci dengan asam encer, maka semua zat warna terhapus. Ditinjau dari tujuan pewarnaan sudah barang tentu pewarnaan tersebut merupakan kegagalan. Tetapi ada juga preparat yang tahan asam encer, misalnya hasil basil TBC dan basil-basil yang berspora. Setelah zat warna yang pertama (ungu) terserap, maka sediaan dicuci dengan alkohol kemudian ditumpangi dengan zat warna yang berlainan, yaitu dengan zat warna merah. Jika sediaan itu kemudian kita cuci dengan air, lalu dengan alkohol, lalu dengan alkohol, maka dua kemungkinan dapat terjadi. Pertama, zat warna tambahan terhapus, sehingga yang nampak ialah zat warna asli (ungu). Dalam hal ini sediaan (bakteri) kita sebut gram positif. Kedua, zat warna tambahan (merah) bertahan hingga zat warna asli tidak tampak. Dalam hal ini sediaan bakteri kita katakan gram negatif (Dwidjoseputro,1998).

Menurut Hadioetomo (1988), dinding sel yang lebih tebal pada bakteri gram positif menyusut o0leh perlakuan alkohol karena terjadinya dehidrasi, menyebabkan pori-pori dindeing sel menutup sehingga mencegah larutnya kompleks ungu kristal-iodium pada langkah pemucatan. Sedangkan sel-sel gram negatif mempunyai kandungan lipid yang lebih tinggi pada dinding selnya dan lipid pada umumnya larut dalam alkohol dan aseton. Larutan lipid oleh pemucat yang digunakan dalam pewarnaan gram diduga memperbesar pori-pori dinding sel dan inilah yang menyebabkan proses pemucatan pada sel-sel gram negatif berlangsung lebih cepat.

  1. 3.    METODOLOGI

 

3.1      Alat dan Fungsi

Alat yang digunakan dalam praktikum Mikrobiologi Dasar tentang Pewarnaan Gram sebagai berikut :

Cawan Petri         : Tempat media pertumbuhan mikroba

Incase                  : menginkubasi alat dan media pada suhu kamar 25-27’C

Jarum loop          : untuk inokulasi dari media pada ke cair atau sebaliknya

Objek glass          : untuk tempat bakteri

Mikroskop            : untuk mengamati mikroorganisme yang tidak dapat dilihat                           oleh mata telanjang

Sprayer                : untuk wadah alkohol 0,70%

Nampan               : untuk tempat alat dan bahan

Pipet tetes            : untuk mengambil larutan dalam skala kecil ukuran 1-10ml

Cover glass         : untuk menutup objek glass

Bunsen               : sebagai pemanas dalam skala kecil dan pengkondisian                             steril

Rak tabung reaksi : untuk tempat tabung reaksi

3.2      Bahan dan Fungsi

Bahan yang digunakan dalam praktikum Mikrobiologi Dasar tentang Pewarnaan Gram sebagai berikut:

Aquadest    : untuk membilas larutan

Etanol         : indikator untuk melunturkan lemak

Safranin      : Indikator untuk pewarna sekunder

Kristal ungu : indikator untuk pewarna primer

Iodium         : indikator untuk memperkuat warna

Kertas label : untuk menandai alat atau bahan

Tissue          : untuk membersihkan alat dan bahan

Alkohol 70% : untuk mensterilkan tangan dan daerah pengamatan.

3.3      Cara Kerja

  1. 4.    PEMBAHASAN

 

4.1      Analisa Prosedur

Pada praktikum Mikrobiologi Dasar materi pewarnaan gram yang pertama kali dilakukan adalah menyiapkan alat dan bahan. Alat-alat yang digunakan adalah cawan petri, objek glass, bunsen, jarum loop, pipet tetes, dan mikroskop. Sedangkan bahan-bahan yang digunakan adalah NA, kristal ungu, iodium, etanol 70%, safranin, dan aquadest.

Langkah selanjutnya adalah diambil bakteri dari media isolasi menggunakan jarum loop karena apabila menggunakan jarum ose dapat merusak media. Jarum loop juga terlebih dahulu dipanaskan diatas bunsen agar kondisinya aseptis. Setelah itu disentuhkan pada medium yang tidak ada bakterinya, karena jika kondisi terlalu panas bakteri bisa mati. Setelah itu diambil bakteri dan digoreskan pada objek glass. Kemudian objek glass difiksasi di dekat bunsen untuk mengkondisikan aseptis dan untuk memperluas struktur internal dan eksternal dari sel dan mikroorganisme. Kemudian ditetesi dengan kristal ungu menggunakan pipet tetes dan didiamkan selama 1 menit. Hal ini bertujuan karena pada saat 1 menit diasumsikan sudah mengunci kristal ungu dan fungsi dari kristal ungu sendiri adalah sebagai pewarna primer.

Setelah itu dibilas dengan aquadest, hal ini bertujuan agar sisa kristal ungu yang dapat luntur dan memperjelas pengamatan. Setelah dibilas dengan aquadest, lalu ditetesi dengan iodium dan dibiarkan selama 2 menit, iodium berfungsi sebagai penguat warna kristal ungu, dan didiamkan selama 2 menit karena pada waktu diasumsikan telah cukup jelas memberikan warna ungu pada bakteri. Setelah itu dibilas lagi dengan aquadest, hal ini bertujuan untuk membersihkan sisa iodium pada bakteri. Kemudian dicuci dengan etanol 70% berfungsi untuk melarutkan lemak, kemudian dibilas kembali dengan aquadest. Hal ini bertujuan untuk memperjelas pengamatan. Setelah itu ditetesi dengan safranin. Safranin berfungsi sebagai pewarna sekunder dan sebagai tanda bahwa bakteri tersebut merupakan gram negatrif. Dibiarkan   menit karena waktu tersebut diasumsikan bahwa dinding sel telah mengunci safranin. Kemudian dibilas dengan aquadest, hal ini bertujuan untuk membilas sisa safranin dan untuk memperjelas pengamatan. Kemudian diamati preparat dibawah mikroskop lalu digambar sesuai hasil yang diamati.

4.2      Analisa Hasil

Pada praktikum Mikrobiologi Dasar tentang pewarnaan gram didapatkan hasil sebagai berikut:

Gambar yang diambil dari mikroskop ini setelah proses pewarnaan gram pada media NA10-5B. Hasilnya berwarna ungu (gram positif) karena bakteri tersebut mengikat kompleks zat warna kristal ungu iodium.

Gambar ini diambil dari mikroskop setelah proses pewarnaan gram, bakteri yang diambil berasal dari media NA 10-4A. Hasilnya berwarna merah gram negatif karena mengikat warna sekunder.

Menurut Hadieotomo (1988), bakteri dapat dipisahkan secara umum 2 kelompok besar yaitu: 1) 1)organisme yang dapat menajahan kompleks pewarna primer ungu kristal iodium sampai pada akhir prosedur (sel-sel tampak biru gelap atau ungu), disebut gram positive; 2) organisme yang kehilangan kompleks warna ungu kristal pada waktu pembilasan dengan alkohol namun kemudian terwarnai oleh pewarna tandingan, safranin (sel-sel tampak merah muda), disebut gram negative.

 

  1. 5.    PENUTUP

 

5.1      Kesimpulan

Dari hasil praktikum Mikrobiologi Dasar tentang Pewarnaan Gram dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :

  • Pewarnaan gram atau metode gram adalah salah satu metode empiris untukm membedakan spesies bakteri menjadi duas kelompo0k besar gram positif dan gram negatif, berdasarkan sifat kimia dan dinding sel mereka.
  • Perbedaan struktur dinding sel bakteri gram positive dan gram negative sehingga menyebabkan perbedaan reaksi dalam permeabilitas zat warna dan penambahan larutan pemucat.
  • dinding sel yang lebih tebal pada bakteri gram positif menyusut o0leh perlakuan alkohol karena terjadinya dehidrasi, menyebabkan pori-pori dindeing sel menutup sehingga mencegah larutnya kompleks ungu kristal-iodium pada langkah pemucatan. Sedangkan sel-sel gram negatif mempunyai kandungan lipid yang lebih tinggi pada dinding selnya dan lipid pada umumnya larut dalam alkohol dan aseton.
  • Alat-alat yang digunakan adalah cawan petri, objek glass, bunsen, jarum loop, pipet tetes, dan mikroskop. Sedangkan bahan-bahan yang digunakan adalah NA, kristal ungu, iodium, etanol 70%, safranin, dan aquadest.
  • Dari hasil praktikum mikrobiologi dasar setelah dilihat dalam mikroskop proses pewarnaan gram pada media NA10-5B. Hasilnya berwarna ungu (gram positif) karena bakteri tersebut mengikat kompleks zat warna kristal ungu iodium.dan pada media NA 10-4A. Hasilnya berwarna merah gram negatif karena mengikat warna sekunder.

 

 

 

5.2       Saran

Dalam praktikum Mikrobiologi Dasar tentang pewarnaan gram para asisten harus mendampingi praktikannya. Agar praktikannya tidak terjadi kesalahan pada saat praktikum.

DAFTAR PUSTAKA

 

  • Dwidjoseputro. 1998. Dasar-dasar Mikrobiologi.Malang:Penerbit                                                    Djambatan.
    • Hadioetomo. 1988. Mikrobiologi Dasar Dalam Praktek. PT                                             Gramedia:Jakarta.
    • Lay dan Hartono.1992. Mikrobiologi. Jakarta : Rajawali Pers.
    • Nufailah, et, al. 2008. http: //eprints. Undip.ac.id/2833/1/Jurnal Dina-                                 Nufailah.PDF. Diakses pada tanggal 17 Oktober                              2011 pukul 17.00WIB.
    • Volk, Wheter. 1992. Mikrobiologi Dasar. University Of Southern Maine.
    • Waluyo. 2008. Mikrobiologi Umum. UMM Press:Malang.

IDENTIFIKASI JAMUR

1      PENDAHULUAN

 

1.1  Latar Belakang

Diantara tumbuh-tumbuhan rendah (bersahaja), maka golongan ganggang (alga) dan golongan jamur merupakan kelanjutan dari pada golongan bakteri. Apakah golongan ganggang itu langsung menjadi lanjutan golongan bakteri ataukah jamur yang menjadi lanjutan langsung dari bakteri, hal ini sangat sukar ditentukan (Dwidjoseputro, 1978).

Fungi atau Cendawan adalah organisme heterotrofik. Mereka memerlukan senyawa organik untuk nutrisinya. Bila mereka hidup dari benda organik mati yang terlarut, mereka disebut saprofit. Saprofit menghancurkan sisa-sisa tumbuhan dan hewan yang kompleks, menguraikan menjadi zat-zat kimia yang lebih sederhana, yangkemudian dikembalikan kedalam tanah, dan selanjutnya meningkatkan kesuburannya. Jadi mereka bisa sangat menguntungkan bagi manusia (Pelczar, et.al. 2008).

Jamur merupakan suatu organisme eukariotik yang mempunyai ciri yaitu berupa benang tunggal yang bercabang, tidak mempunyai klorofil, hidupnya heterotrof dan mempunyai berbagai macam penampilan, tergantung pada spesiesnya.

Fungi tingkat tinggi maupun tingkat rendah mempunyai ciri yang khas yaitu benang tunggal atau bercabang-cabang yang disebut hifa. Kumpulan dari hifa-hifa akan membentuk misselium. Fungi ada yang bersifat parasit dan ada pula yang bersifat saprofit. Fungi dapat mensintesis protein dan vitamin (Waluyo, 2004).

Identifikasi jamur merupakan suatu kegiatan yang sangat penting mengingat banyak jenis jamur belum diketahui jumlah dan jenisnya. Jumlah spesies jamur yang sudah diketahui hingga kini hanya kurang lebih 69.000 dari per kiraan 1.500.000 spesies yang ada didunia. Dapat dipastikan bahwa indonesia yang sangat kaya akan diservitas tumbuhan dan hewannya juga memiliki diservitas jamur y6ang sangat tinggi mengingat lingkungannya yang lembab dan suhu tropik yang mendukung pertumbuhan jamur (handajani, 2006).

 

1.2  Maksud dan Tujuan

Maksud dari praktikum Mikrobiologi Dasar materi identifikasi jamur adalah agar praktikan dapat mengetahui dan memahami dari identifikasi jamur dengan tepat.

Tujuan dari praktikum Mikrobiologi Dasar identifikasi Jamur adalah praktikan mampu memahami, mengetahui dan melakukan dari identifikasi jamur denagn tepat.

 

1.3  Waktu dan Tempat

Praktikum Mikrobiologi Dasar tentang identifikasi jamur ini dilaksanakan pada hari kamis tanggal 6 Oktober 2011 pada pukul 07.00 sampai pukul 10.00 WIB dan bertempatan laboratorium Mikrobiologi. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Uiversitas Brawijaya, Malang.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

2. TINJAUAN PUSTAKA

 

2.1 Pengertian Jamur

Jamur adalah tubuh buah yang tampak di permukaan media tumbuh dari sekelompok fungi (Basiclienycita) yang berbentuk seperti payung yang terdiri dari bagian tegak dan bagian yang mendatar atau membulat. (medya.2010)

2.2 Morfologi Jamur

Kamur tidak mempunyai klorofil sehingga induknya heterogen sifat ini menguatkan pendapat bahwa jamur itu merupakan kelanjutan bakteri di dalam evolusi (Dwidjo seputro.1998).

            Jamur merupakan kelompok organism eukatik yang membentuk duam jamur atau regnumfungi jamur pada umumnya multiselule (bersel banyak) cirri-ciri jamur berbeda degan organisme lainnya dalam hal cara makan struktur tubuh, pertumbuhan dan reproduksi (medya.2010)

2.3 Macam-Macam Klasifikasi Jamur

            Menurut Alex Epoulus (1962) dalam dwidjoyo septo, tahllophyta yang tidak berklorofil di bagi atas;

1)    Phylum Schizomycophyta (bakteri)

2)    Phylum  Myxommycophyta (jamur lendir)

3)    Phylum Eumycophyta (Jamur benar ).

Phylum eumycohyta di bagi atas 4 kelas yaitu :

1)    Kelas phychomycetes

2)    Kelas Aschomychetes

3)    Kelas Deuteromycetes

4)    Kelas Basidiomycetes

 

2.4 Macam-macam Metode Penanaman Jamur beserta Klebihan dan Kekurangannya

Istilah kapang digunakan bagi fungi yang berfilamen sedangkan khamir ialah bentuk sel tunggal dengan perbedaan sel secara pertunasan fungi dengan bentuk khamir atau fungi seperti ragi dapat tumbuh oleh perpanjangan selnya sehingga menyerupai bhifa. Perbedaanya adalah perletakan antara sel tidak kuat, sehingga disebut pseudohita fungi yang bersifat patogen banayak pula dan sering bersifat dimorpik (Den’z.2008)

 

Sedangkan menurut (Diana W.1992) fungi memiliki 2 fase yang terlihat bila ditumbuhkan pada suhu yang berbeda.

Fase khamir (37  c),

Fase miselium ( 24-28 C)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

3.METODOLOGI

 

 

3.1  Alat dan Fungsi

Alat yang digunakan dalam praktikum Mikrobiologi Dasar tentang Pewarnaan Gram sebagai berikut :

Cawan Petri                : Tempat media pertumbuhan mikroba

Erlenmeyer 250 m      :  wadah untuk pembuatan menhomogenkan larutan

Rak tabung reaksi       : sebagai tempat untuk meletakkan tabung reaksi

Bunsen                        :untuk pengkondisian aseptis

Gelas ukur                  :mengukur aquadest yang dibutuhkan

Pipet volume               :untuk mengambil larutan 1-10 ml

Pipet serologis             :untuk mengambil larutan 0,1-1 ml

Incase                         : untuk inkubasi media pada suhu kamar 25-270C

Timbangan Analitik     : untuk menimbang massa

Mikroskop                   : untuk memgamati mikroorganisme yang brukuran mikro.

3.2 Bahan dan Fungsi

Adapaun bahan –bahan yang diguanakan dalam praktikum antara lain;

PDA                : tempat media penanaman

Aquadest         : sebagai pelarut

Sampel            : sebagai media pengenceran

NaFis   0.9%    : sebagai media

Korann            : untuk membungkus cawan perti

Kapas untuk menutup tabung reaksi

Alcohol 70%    : prastikan tangan dan meja

Tali : untuk mengikat bungkusan yang berisi alat-alat yang akan di sterilisas

 

3.2          Skema Kerja 

Identifikasi jamur

 
   

 

 

 

            Diambil dari incase

            Diamati pertumbuhan jamur

            Dipijarkan jarum loop

            Diletakan pada cover glass

            Ditetesi dengan Nafis 0.9%

            Ditutup dengan cover glasscekung

            Dibalik

Hasil

 

            Diamati di bawah mikroskop

 

 

 

 

  1. 4.    PEMBAHASAN

 

4.1 Analisa Prosedur

Dalam praktikum mikrobiologi dasar tentang identifikasi jamur langkah pertama di lakukan adalah disiapkan alat dan bahan yang di butuhkan saat praaktikum nanti diantaranya, tabung reaksi sebagai pengencer bertingkat, cawan petri sebagai tempat penanaman bakteri, Bunsen sebagai pengkondisian aseptis dan sumber panas, incase unutk incubasi pada suhu kamar (27), sedangkan bahan yang digunakan adalah Nafis 0.9% untuk melarutkan sampel.

Langkah selanjutnya yaitu melakukan incubasi pada cawan petri yang sudah ditumbuhi oleh jamur dan diambil dari incase lalu jarum loop dipijarkan di atas Bunsen  lalu buka tutup cawan petri lalu dimasukan jarum loop lalu. Di kenakan pada media setelah itu diambil jamur yang paling dominan, lalu diletakan di atas cover glass lalau di tetesi dengan Nafis lalu ditutup dengan objek glass yang cengkung lalu diletakan di bawah mikroskop untuk diamati.

 

4.2 Analisa Hasil

4.2.1 Hasil identifikasi jamur

            Pada hasil praktikum identifikasi jamur, setelah dilihat dari bawah mikroskop, tampak jamur yang tumbuh berbentuk seperti pecahan kotak tidsk beraturan warnanya terlihat coklat kelihatan bentuk tubuhnya transparan dan seperti terdapat air atau ruang didalamnya bentuknya berupa batang tanpa tempurung.

            Menurut Dwidjoseputro (1998), baik baik jamur yang berbiji atau jamur yang  tingkat tinggi memiliki cirri khas yaitu berupa benang tunggal bercabang-cabang yang disebut miselium atau berupa kumpulan benang-benang yang dapat menjadi satu hanya golongan ragi.(Sacharomycetes) itu bentuk tubuhnya berupa sel-sel tunggal cirri kedua jamur tidak mempunyai klorofil sehingga hidupnya terpaksa heterotrof.

 

4.2.2 Gambar hasil Pengamatan dan jenis-jenis Jamur

            Pada pengamatan praktikum tentang identifikasi jamur tampak bahan gambar atau bentuk dari jamur berupa patahan-atahan berupa kotak atau serabut tidak beraturan tidak dapat di identifikasi jeni jamur apa, karena tidak terdapat indikatro penentu jenis jamur.

 

Dalam pengamatan ini diperoleh hasil pengamatan bahwa jamur ini termasuk jamur jenis “Myxomycophyta” (jamur lendir).

Menurut Dwidjoseputro (1998), baik jamur yang bersahaja dan bertingkat tinggi mempunyai cirri khas yaitu berupa bentuk tunggal bercabang-cabang yang disebut miselium atau berupa kumpulan benang-benang yang dapat menjadi satu.

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. 5.  PENTUP

 

5.1 kesimpulan

Jamur  adalah organism yang tidak berklorofil dan tubuhnya tidak mempunyai diferensial yang disebut tumbuhan talus.

Klasifikasi jamur yaitu :

  • Phylum schizomycophyta
  • Phylum mixomycophyta
  • Phylum eumycophyta

Phylum Eumycophyta dibagi menjadi 4 bagian yaitu :

  1. Phydaomycetes
  2. Ascomycetes
  3. Ceuteromycetes
  4. Basicdiomycetes

Dari hasil pada praktikum mikrobiologi dasar tentang identifiaksi jamur di peroleh jamur dengan jenis “ MYXOMYCOPHYTA” (caiaran yang berlendir).

 

5.2 saran

Saran yang dapat diberikan pada praktikum Mikrobiologi Dasar tentang “identifikasi jamur” adalah kurang efisiennkarena keterbatasan alat dan tahun depan alatnya diperbanyak lagi.

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Den’z,2008,     htt:// Metode penanaman jamur.blogspot.com. Den’z /2008/ diakses pada 12 oktober 2011,pukul 18:00 wib.

Diana W.1992. Mikrobiologi Umum. Jakarta : Departemen Mikrobiologi Fakultas Pertanian.

Dwidjoseputro, 1998. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Djambatan:Jakarta

Handajani 2006, Noorsoesanti dan Ratna setyaningsih.2006. idebtifikasi jamur dan Deteksatif Latoksin  terhadap petis udang komersial. Biodiversitas. Vol.7.no.3. hal.212-215

Lay,1992.        Mikrobiologi Umum , penerbit Andik Yogyakarta.

Medya,2010, http: //eprints. Undip.ac.id/2833/1/Jurnal Dina- Nufailah.PDF. Diakses pada tanggal 17 Oktober  2011 pukul 17.00WIB  .

Pelczar, et.al.2008. Dasar-Dasar Mikrobiologi.UI Press:Jakarta

Waluyo, 2004. Mikrobiologi Umum.UMM Press:Jakarta

 

Perhitungan Koloni dan Isolasi

  1. 1.    PENDAHULUAN

 

1.1  Latar Belakang

Bakteri dapat diperoleh dimana-mana missal dari rongga mulut dari sela-sela gigi, dari tanah banyak sampah-sampah, dari sisa-sisa makanan yang sudah basi. Biasanya kita mengadakan pemeliaraan dulu di cawan petri yang berisi zat makanan atau medium (Dwidjosaputro, 2005).

Kegiatan suatu mikroba dipengaruhi oleh factor-faktor eviroment atau unsure-unsur ekologi. Perubahan yang terjadi pada factor-faktor tersebut mengakibatkan perubahan sifat morfologi dan fisiologi mikroba factor-faktor environment meliputi factor abiotik dan biotic (Jutono, 1973).

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan diperoleh bahwa bakteri yang di isolasi dari usus ddan lambung ikan kerapu macan dapat tumbuh dan berkembang pada media kultur TSA dengan pH 2, yang merupakan indicator utama bakteri probiotik. Koloni bakteri yang tumbuh pada media terdapat dalam berbagai bentuk, warna, tampilan, ukuran, dan permukaan koloni yang berdebu (Feliatra et al., 2004).

Prokariota meliputi dua domain, domain bacteria dan domain arkhaea. Meskipunistilah bekteria umumnya masih digunakan dalam biologi sebagai awal pada semua  prokariota, dalam unit istilah itu secara khusus mengacu pada anggota domain bacteria. Bacteria adalah suatu mikro prokariotik dalam domain bacteria (Champbell, 2000).

Isolasi adalah merupakan salah satu cara pembiakan yang bertujuan untuk mendapatkan biakan murni. Konsep dari isolasi ini adalah dengan memisahkan bakteri yang satu dengan yang lainnya yang berada pada satu habitat. Macam – macam metode isolasi adalah metode cawan gore yaitu dimana media terlebih dahulu baru sample dimasukkan dan metode cawan tuang yaitu sample sudah ada dan media dimasukkan.

Factor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan bakteri adalah nutrient, air, pH, oksigen dan suhu. Dimana fase pertumbuhannya meliputi fase adaptasi, fase pertumbuhan awal, pertumbuhan tetap, serta fase kematian.

1.2  Maksud dan Tujuan

Maksud dari praktikum mikrobiologi dasar tentang perhitungan koloni bakteri dan isolasi adalah agar praktikan dapat mengetahui cara-cara perhitungan koloni dan mengisolasi sel bakteri.

Tujuan dari praktikum mikrobologi dasar tentang perhitungan koloni bakteri dan isolasi adalah agar praktikan mampu melakukan perhitungan koloni dan mampu melakukan isolasi terhadap terhadap bakteri.

1.3  Waktu dan Tempat

Praktikum mikrobiologi dasar tentang perhitungan koloni bakteri dan isolasi ini dilaksanakan pada hari rabu, tanggal 5Oktober 2011, pukul 07.00 – 10.00 WIB di laboratorium mikrobiologi Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Brawijaya, Malang.

 

  1. 2.    TINJAUAN PUSTAKA

 

2.1   Pengertian dan Faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan Bakteri

Adalah sekelompok mikroorganisme yang bersel satu, tidak berklorofil (meskipun ada kecualinya), berbiak dengan pembelahan diri, serta demikiannya sehingga hanya tampak dengan mikroskop (Dwidjosaputro, 2005).

Suhu lingkungan, gas dan pH adalah factor-faktor fisik utama yang harus dipertimbangkan didalam penyediaan kondisi optimum bagi pertumbuhan kebanyakan spesies bakteri (Pelczar, 2008).

2.2   Fase Fase Pertumbuhan Bakteri dan Kurva Pertumbuhan

Perkembangan suatu populasi organisme yang dimasukkan ke dalam media kaya makanan dan segar, sebuah campuran zat-zat pada atau dimana mikroorganisme-mikroorganisme tumbuh. Organism-organisme semacam itu memperlihatkan empat fase utama petumbuhan 1. Lag phase; 2. Log phase; 3. Stationary phase; da 4. Decline phase atau death phase. Phase-phase ini membentuk kurva standart oertumbuhan bakteri (Ibrahim, 2007).

Menurut Dwidjosaputro (2005), pembelahan diri dapat dibagi atas 3 fase yaitu:

  1. Fase Utama, dimana sitoplasma terbelah oleh sekat yang tegak lurus pada arah memanjang.
  2. Sekat tersebut di ikuti oleh suatu dinding melintang.
  3. Fase terakhir adalah terpisahnya kedua sel

2.3   Pengertian dan Tujuan Isolasi

Untuk mencirikan dan mengidentifaksi suatu spesies mikroorganisme tertentu. Pertama-tama spesies di jumpai dalam habitatnya, lalu ditumbuhkan menjadi biakan murni (Baskoro, 1994).

Mengisolasi suatu mikroba ialah memisahkan mikroba tersebut dari lingkungannya di alam dan menumbuhkannya sebagai biakan murni dalam medium buatan untuk isolasi harus dikethui cara-cara penanaman dan menumbuhkan mikroba pada medium biakan serta syarat lain untuk pertumbuhannya (Jutono et al.,1973).

2.4   Macam Metode Pertumbuhan Perhitungan Koloni Serta Kelebihan dan Kekurangan

Perhitungan mikroskop bias dilakukan dengan metode breed dan petrof-houser. Metode Breed sering dilakukan untuk menganalisa susu yang mengandung baktrei dalam jumlah tinggi. Perhitungan metode petrof-hourser dilakukan secara langsung, dilakukan dengan cara menghitung jumlah sel yang tampak pada pengamatan menggukan mikroskop. Teknik ini banyak digunakan karena dapat dilaksanakan dengan cepat dan mudah dengan menggunakan alat yang disebut counting chamber(Zubaidah, 2006).

Pertumbuhan diukur dari perubahan jumlah sel atau berat sel. Jumlah sel dapat dihitung dari jumlah sel tebal yang tidak membedakan jumlah sel hidup atau mati, dan jumlah sel hidup. Jumlah sel mikroba dapat ditentukan secara langsung dengan pengamatan mikroskopis dalam bentuk sample kering yang diletakkan dipermukaan gelas benda dan dalam sampel cairan yang menggunakan metode Counting Chamber ( Yatim, 2009).

lll. METODOLOGI

 

3.1 Alat dan Fungsi

Alat yang digunakan dalam materi  perhitungan koloni bakteri dan isolasi adalah sebagai berikut :

Cawan Petri                : untuk tempat media pembiakan bakteri dan penanaman jamur

Incase                         : untuk menginkubasi media pada suhu kamar 25-C

Colony Counter           : alat untuk menghitung jumlah koloni bakteri

Jarum Loop                 : untuk menginokulasi dari media padat ke cair maupun sebaliknya

Bunsen                        : untuk melakukan pengkondisian aseptis

Sprayer                       : sebagai wadah alkohol 70%

Nampan                      : sebagai tempat alat dan bahan

3.2 Bahan dan Fungsi

Bahan yang digunakan dalam materi perhitungan koloni bakteri dan isolasi adalah adalah sebagai berikut :

NA                               : sebagai media penanaman bakteri

Aquadest                     : untuk melarutkan media NA, PDA dan NaCl

Sampel air kolam        : sebagai sampel untuk biakan bakteri

Nafis 0,9%                  : sebagai pengenceran

Tali                              : untuk mengikat alat yang sudah dibungkus dengan koran

Koran                          : untuk membungkus cawan petri

Kapas                          : untuk menutup pangkal serologis, erlenmeyer dan tabung reaksi yang akan disterilisasi

Alkohol 70%                : sebagai bahan untuk pengkondisian aseptis

 

3.3 Cara Kerja

 

4. PEMBAHASAN

4.1 Analisa Posedur

Pada praktikum Mikrobiologi Dasar materi perhitungan koloni dan isolasi. Hal pertama yang harus dilakukan yaitu disiapkan alat dan bahan. Adapun alat yang digunakan dalam praktikum ini yaitu cawan petri, incase, colony counter, jarum loop, bunsen, sprayer, nampan, sedangkan bahan-bahan yang digunakan yaitu NA, aquadest, sampel air kolam, Nafis 0,9%, tali, koran, kapas dan alkohol.

Adapun syarat perhitungan koloni sehingga koloni dapat dihitung yaitu antara lain jumlah koloni yang akan dihitung tersebut dapat dihitung (bukan merupakan TBUD (tidak bisa dihitung) atau spreader/ terlalu banyak sehingga tidak dapat dihitung), yang kedua jumlah koloni termasuk dalam rasional dan yang ke tiga jumlah koloni dapat antara 30-300.

Pada proses perhitungan koloni, langkah pertama yang harus dilakukan yaitu diambil cawan petri yang berisi medium dan sampel dari incase, kemudian dihitung koloni bakteri dengan menggunakan koloni counter sehingga dapat diketahui jumlah koloni.

Pada proses isolasi bakteri, langkah pertama yang dilakukan yaitu cawan petri diambil dari kulkas, kemudian dipijarkan jarum loop diatas bunsen, diambil 1 bakteri dengan menggunakan jarum loop di cawan petri, lalu digoreskan pada medium isolasi dengan metode zig-zag. Setelah itu, dibungkus dengan koran dan diikat dengan tali dan diinkubasi di incase selama 24 jam.

 

 

 

 

 

 

4.2 Analisan Hasil

Pada praktikum Mikrobiologi Dasar dalam materi Perhitungan Koloni dan Isolasi diperoleh hasil sebagai berikut :

Shift 1 :

   

 

 

   

 

kelompok

A

B

A

B

A

B

1

15

39

9

5

9

3

2

-

-

-

-

-

-

3

128

198

107

130

107

87

4

28

19

58

17

5

12

5

135

39

33

32

23

16

6

43

33

35

28

85

35

7

36

40

35

25

22

41

8

57

62

38

55

61

Spreader

9

22

26

22

36

16

28

 

 

 

 

 

   

 

TPC (kal/mol)

kelompok

A

B

A

B

A

B

 

1

13

10

23

22

17

-

0

2

Spreader

Spreader

Spreader

Spreader

Spreader

23

0

3

-

-

38

-

-

-

0

4

23

36

26

18

26

16

0,345x

5

62

76

84

195

116

156

0,7x

 

Perhitungan :

Perhitungan jumlah total bakteri ditentukan oleh

  1. Rasional
  2. Range antara 30-300

Shift 1

  • Kelompok 1

              A     B

    15   39

    9     5

    9     3

 Ʃ koloni = 1x

                = 39 x

                = 0,39 x  kal/mol

  • Kelompok 2 (-)
  • Kelompok 3

               A         B

    128    198

    107    130

    107     87

 Ʃ koloni =  x

                = 163 x

                = 1,63 x  kal/mol

  • Kelompok 4

              A      B

    28    19

    58    17          

    5      12

Tidak rasional

  • Kelompok 5

               A        B

    135     39

     33      32

     23      16

 Ʃ koloni =  x

                = 87 x

                = 0,87 x  kal/mol

  • Kelompok 6

              A      B

    43    33

    35    28

    85     35

 Ʃ koloni =  x

                = 38 x

                = 0,38X kal/mol

  • Kelompok 7

              A      B

    36    40

    35    25

    22    41

 Ʃ koloni =  x

                 = 38X

                 = 0,38X kal/mol

  • Kelompok 8

             A        B

    57    622

    38    55

    61    Spreader

 Ʃ koloni =  x

                 = 59,5 x

                 = 0,595xkal/mol

  • Kelompok 9

              A      B

    22    26

    22    36          

    16    28

Tidak Rasional

Shifft 2

  • Kelompok 1

              A      B

    13    10

    23    22        

    17    -

Tidak Rasional

  • Kelompok 2

                  A                   B

    Spreader      Spreader

        34            Spreader       

    Spreader          23

Tidak Rasional

  • Kelompok 3

               A      B

      –       -

     38     –         

      –       -

Tidak Rasional   

  • Kelompok 4

             A      B

    23    36

    26    18        

    26    16  

 Ʃ koloni = 36 x 

                = 36 x

                = 0,36 x  kal/mol

  • Kelompok 5

              A      B

    62    76

    84    195        

    116    156  

 Ʃ koloni    =  x

                   = 69 x    

                   = 0,69 x  kal/mol

Pada hasil perhitungan koloni bakteri dan isolasi didapatkan suatu hasil jumlah koloni terbesar dan jumlah koloni terkecil dimana jumlah koloni terbesar diperoleh kelompok 3 shift 1 sebesar 1,63x sedangkan pada jumlah terkecil diperoleh kelompok 4 shift 1 sebesar 0,36x.

 

5. PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Dalam praktikum Mikrobiologi dasar tentang Perhitungan Koloni Bakteri dan Isolasi dapat disimpulkan sebagai berikut :

-          Factor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan bakteri adalah suhu, nutrient, air, pH, dan oksigen.

-          Pertumbuhan bakteri terdiri dari 7 fase, yaitu : fase adaptasi, pertumbuhan awal, pertumbuhan logaritmik, pertumbuhan lambat, pertumbuhan tetap, menuju kematian, serta fasekamatian.

-          Rumus perhitungan koloni adalah = jumlah koloni percawan X  

-          Perhitungan koloni dilakukan dengan cara manual dan menggunakan  koloni counter untuk lebih mengoreksi nilai-nilai yang diperoleh.

-          Prinsip dari metode isolasi adalah memisahkan satu jenis mikroba dnegan mikroba lainnya agar dapat biakan murni.

-          Jumlah TPC paling banyak adalah kelompok 3 dnegan jumlah1,63 X 105 kol/ml pada shift 1. Sedangkan ada 1 kelompok yang tidak rasional yaitu kelompok 4.

-          Pada shift 2 TPC paling banyak adalah kelompok 5 dengan jumlah 0.65 X 105 kol/mldan terdapat 4 kelompok yang tidak rasional.

5.2 Saran

Saran yang dapat diberikan pada praktikum Mikrobiologi Dasar tentang Perhitungan Koloni bakteri dan Isolasi adalah kurang efisiennkarena keterbatasan alat dan tahun depan alatnya diperbanyak lagi.

DAFTAR PUSTAKA

-          Baskoro, kartasapoetra. 1994. Mikrobiologi Tanah. Jakarta : Bineka Citra.

-          Champbell, Neil A. 2000. Biologi. Erlangga, Jakarta.

-          Dwidjosapoetra D. 2005. Dasar Mikrobiologi. Jakarta : Djambatan.

-          Feliatra, Eko Indri. 2004. Mikrobiologi Umum. Jakarta : gramedia.

-          Muhammad, Ibrahim. 2004. Mikrobiologi Dasar. Jakarta : Bineka Citra.

-          Jutono et al. 1973. Mikrobiologi Umum. Jakarta : Departemen Mikrobiologi Fakultas Pertanian.

-          Pelczar, Michel J dan E.C.S Chan.  2008. Dasar – Dasar Mikrobiologi. UI, Jakarta.

-          Rochima, Emma. 2005. Dinamika Jumlah Bakteri Selama Fermentasi Selama Prosessing Ikan Asin Jambal Roti. Hal 1 – 8.

-          Yatim, 2009. Analisis Mikroba Pada Kolam Ikan di Sumatera Utara. Vol. 1 No.2

-          Zubaidah, Elok et al. 2006. Mikrobiologi Umum. Universitas Brawijaya, Malang.,

 

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.