BIOLOGI LAUT

  1. 1.   PENDAHULUAN

 

1.1         Latar Belakang

Menurut Nontji(1987) dan Nyibakken(1992) dalam Chairil Anwar (2006), hutan mangrove adalah tipe huatan yang khas yang terdapat disepanjang pantai atau muara sungau yang dipengaruhi oleh pasang surut air laut. Mangrove tumbuh pada pantai-pantai yang terlindung atau pantai-pantai yang datar, biasanya disepanjang sisi pulau yang terlindung dari angin atau dibelakang terumbu karang dilepas pantai yang terlindung.

                        Lingkungan estuary merupakan kawasan yang sangat penting bagi berjuta hewan dan tumbuhan. Pada daerah tropis seperti di lingkungan estuary umumnya umumnya ditumbuhi dengan tumbuhan yang khas yang disebut mangrove. Tumbuhan ini mampu beradaptasi dengan genangan air laut yang kisaran salinitasnya cukup besar. Pada habitat mangrove inilah kita akan menemukan berjuta yang hidupnya sangat berantung pada lingkungan ini, sebagai lingkungan perairan yang mempunyaikisaran salinitas cukup besar, estuary mempunyai berjuta keunikan yang khas. Hewan-hewan yang hidup pada perairan ini adalah hewan yang mempu beradaptasi dengan kisaran salinitas tersebut, dan yang paling penting adalah lingkungan perairan estuary merupakan lingkungan yang sangat kaya akan nutrient yang menjadi unsur terpenting bagi pertumbuhan phytoplankton (Julyamil,2011).

                        Daerah pantai kaya akan berjenis-jenis organisme, walaupun demikian kehidupa disana menciptakan problema-problema. Hal ini dapat diperlihatkan oleh catatan yang ada pada kehidupan pantai yang berbatu-batu, misalnya organisme intertidal harus dapat menyesuaikan diri (atau menghindar dengan membuat lubang).Dalam hal yang paling serius adalah resiko kemungkinan besarnya cairan tubuh yang basah karena semua organisme yang hidup di pantai mempunyai permukaan tubub yang basah dan mempunyai sifat cepat kehilangan air akibat penguapan. Daerah ini juga berbahaya, karea kuatnya sinar dari pemanasan matahari dapat mengakibatkan suhu menjadi terlalu tinggi (Hutabarat sahala dan Stewart, 1985).

1.2      Maksud dan Tujuan

1.2.1 Maksud

Maksud dari praktikum biologi laut yaitu mengetahui spesies yang terdapat pada zona mangrove, zona intertidal. Pada zona estuary untuk mengetahui kadar Ph, suhu, salinitas, DO ( oksigen terlarut ) dan kecerahan pada suatu perairan.

1.2.2 Tujuan

Tujuan dari praktikum biologi laut yaitu dapat melakukan identifikasi spesies yang didapat dari zona mangrovedan intertidal, serta dapat melakukan pengukuran Ph, suhu,salinitas, DO (oksigen terlarut) dan kecerahan pada zona estuari.

1.3      Tempat dan Waktu

1.3.1  Tempat

Praktikum biologi laut dilaksanakan di pantai ngliyep, Malang

Selatan dan di Laboratorium IIP(ilmu-ilmu perairan), Fakultas Perikanan dan Ilmu kelautan, Universitas Brawijaya, Malang.

1.3.2  Waktu

Praktikum biologi laut dilaksanakan pada pukul 09.30 WIB

sampai 15.00 WIB di pantai Ngliyep, Malang selatan dann pada pukul 11.00 WIB sampai 13.30 WIB di Laboratorium IIP(Ilmu-ilmu Perairan),Fakultas Perikanan dan Ilmu kelautan, Universitas Brawijaya, Malang.

2. TINJAUAN PUSTAKA

 

2.1  Zonasi

2.1.1 Intertidal

  1. a.    Pengertian Zona Intertidal

            Daerah yang terletak diantara daratan dan lautan yang masih  dipengaruhi oleh air pasang dikenal sebagai pantai laut (seashore). Pada beberapa tempat, lereng pantanya mempunyai bentuk landai dan disini terdapat jarak yang besar antara tanda – tanda air pasang tertinggi dan air pasang terendah. Sedangkan ditempat lain dimana lereng pantainya berbentuk curam, tanda – tanda air pasangnya akan kelihatan saling berdekatan. Pada daerah pantai yang terdiri dari pasir atu kerikil yang bersih, mempunyai pengecualian karena daerah pasang surutnya (intertidal) dapat mendukung sejumlah besar dan berjenis – jenis organisme walapun tipe pantai yang berbeda cenderung untuk memupunyai sifa populasi sendiri (Hutabarat Sahala dan Stewart,1985).

                        Zona intertidal merupakan zona yang dipengaruhi oleh pasang surut air laut dengan luas area yag sempit antara daerah pasang tertinggi dan surut terendah. Pada zona ini terdapat varasi faktor lingkungan yang cukup besar seperti fluktuasi suhu, salinitas , kecerahan dan lain – lain. Varias ini dapat terjadi pada daerah yang hanya berjarak sangat dekat saja misalnya beberapa cm. Zona ini dihuni oleh organisme yang keseluruhannya merupakan organisme bahari (Nabilla, 2010).

  1. b.     Faktor – faktor di Zona Intertidal

            Menurut Indra (2011), faktor fisik dan biologis yang mempengaruhi keanekaragaman kehidupan pada perairan zona intertidal yaitu:

  1. Faktor fisik :
    1. Pasang surut
    2. Suhu
    3. Gerakan ombak
    4. Salinitas
    5. Substrat
    6. Faktor Biologis :
      1. Penyesuaian organisme terhadap lingkungannya
      2. Pemangsaan
      3. Penetapan dan tempat tinggal

Menurut Rahma (2010), kondisi lingkungan di zona intetidal biasanya dipengaruhi oleh faktor – faktor berikut:

  1. pasang surut
  2. suhu
  3. gerakan ombak
  4. salinitas
  5. faktor – faktor lain: adanya pasir, batu dan lumpur
  1. c.    Biota pada Zona Intertidal

Banyak spesies binatang pada intertidal yang mempunyai mekanisme dalam tubuhya untuk mencega terjadinya surut air. Mekanisme dalam tubuh mereka dapat berupa terstruktur, tingkah laku ataupun dua-duanya. Bernakel merupkan spesies yang paling dominan pada zona intertidal diseluruh dunia. Lemfet seperti Patella, Acmaea dan Collisella juga dominan pada intertidal yang berbatu(Nybakken, 1988).

Menurut Hutabarat dan Stewart (1985), pada daerah pantai yang terdiri dari pasir atau kerikil yang bersih mempunyai pengecualian karena daerah pasutnya dapat mendukung sejumlah besar dan berjenis – jenis orgnisme walau tipe pantai meruakan tempa yang sangat baikbagi hewan – hewan atau tumbuh – tumbuhan yang dapat menempelkan diri pada lapisan dan tumbuh – tumbuhan berukuran besar, cenderung didominan oleh jenis hewan infana (penggali lubang). Jeni pengali lubang plychaete dan moluska banyak dijumpai ada daerah ini.

2.1.2    Mangrove

  1. a.    Pengertian Zona Mangrove

Ekosistem mangrve didefinisikan sebagai mintakat pasut dan mintakat supra pasut dari pantai berlumpur dan teluk, goba dan estuarian yang didominasi oleh halofita (halophyta) yakni tumbuh – tumbuhan yang hidup di air asin, berpokok dan beradaptasi tinggi, yang berkaitan dengan anak sungai, rawa dan banjiran, bersama – sama dengan populasi tumbuh – tumbuhan dan hewan (Romimohtarto dan Juwana Sri, 2007).

Hutan mangrove mempunyai sifat yang khas dan komplek dan menjadi tempat hidup bagi berbagai jenis hewan mulai dari yang paling rendah (protozoa) sampai ke tingkat yang tinggi (vertebrata). Wilayah ini merupakan ekosistem peralihan atara darat dan laut serta menjadi mata rantai yang sangat penting tetapi rawan dalam menjaga kseimbangan siklus biologi di bumi (Burhannudin , 2010).

  1. b.     Biota pada Zona Mangrove

Menurut Mangrovecenter (2009), flora mangrove dibagi menjadi 2 kelompuk yaitu :

  1. Kelompok mayor : komponennya adalah pemisah taksonominya dari hubungan daratan dan hanya terjadi di hutan mangrove serta membentuk tegakan murni tetapi tidak pernah murni sampai kedalaman daratan contohnya adalah Avicennia, Bruguiera, Ceriops, Lagun dan Nypa.
  2. Kelompok Asossiasi Mangrove : dalam komponen ini jarang ditemukan spesies yang tumbuh di dalam komunitas mangrove yang sebenarnya dan kebanyakan sering ditemukan di dalam tumbuh-tumbuhan darat.

Menurut   Romimontarto (2001) dalam Zeny (2010), tumbuhan mangrove yang khas kebanyakan beradaptasi seperti yang telah diterangkan. Beberapa jenis seperti Avicennia hidup di habitat yang berair lebih asin sedangkan Nypa fructicans terdapat pada habitat yang berair lebih tawar. Beberapa hewan mangrove beradaptasi hidup melekat pada akar Rhizopora dan Bruguiera. Bersama mereka biasanya terdapat masyarakat kecil terdiri dari keong, kerang, kepiting, udang, teritip, isopoda, cacing, sepon dan ikan.

  1. c.    Susunan Tanaman dari Perairan ke Daratan di Mangrove

            Komposisi flora yang terdapat pada ekosistem mangrove ditentukan oleh beberapa factor penting seperti kondisi jenis tanah dan genangan pasang surut. Di pantai terbuka pohon perintis(pionir) umumnya adalah api-api(Avicennia) dan pedada(Sonneratia). Api-api cenderung hidup pada tanah yang berlumpur lembut. Pada tempat yang terlindung dari hempasan ombak komunitas mangrove terutama Biunnguli oleh bakau Rhizopora mucronata atau Rhizopora apiculata lebih ke arah daratan pada tanah lempung yang agak pejal dapat ditemukan komunitas Bruguiera gymnorhiza, sejenis paku laut dari jeruju seringkali dapat ditemukan di daerah pinggiran pohon-pohon mangrove sebagai tumbuhan bawah. Nipa merupakan jenis palma yang juga merupakan komponen mangrove yang acap kali ditemui di tepi sungai ke hulu(Nontji, 1987 dalam Citra, 2011).

            Pada tempat yang terlindung dari hamparan komunitas mangrove terutama diungguli oleh bakau Rhizopora mucronataatauApiculata. Lebih ke arah daratan pada tanah lempung yang agak pejal dapat ditemukan komunitas Bruguiera gymnorhiza, sejenis paku laut dari jeruju seringkali dapat ditemukan di daerah pinggiran pohon-pohon mangrove sebagai tumbuhan bawah. Nipa merupakan jenis palma yang juga merupakan komponen mangrove yang acap kali ditemui di tepi sungai ke hulu(Russady, 2010).

  1. d.    Manfaat Ekosistem Mangrove

            Salah satu manfaat hutan mangrove adalah menyediakan sejumlah makan dari unsur hara bagi spesies hewan laut termasuk yang memiliki arti ekosistem penting, Unsur organism yang telah mati dan diuraikan oleh mikroorganisme. Peran dan manfaat hutan mangrove antara lain pelindung alami yang paling kuat dan praktis untuk menahan erosi pantai, menyediakan berbagai hasil kehutanan seperti kayu bakar, alcohol, gula, bahan atap, bahan perahu dan lain-lain. Sebagai tempat hidup dan berkembang biak udang, burung, monyet, buaya dan satwa liar lainnya yang diantaranya endemic serta mempunyai potensi wisata. Fungsi biologi hutan mangrove sebagai habitat satwa liar, sebagai tempat berkembang biak (nursery groung). Jenis-jenis ikan, udang, kepiting. Fungsi sosial ekonomi hutan mangrove yaitu merupakan habitat ikan, udang kepiting. Serta nilai ekonomi, maka masyarakat memanfaatkan sebagai mencari nafkah dan memenuhi sebagian kebutuhan hidupnya(Citra, 2011).

            Hutan mangrove mempunyai fungsi yang sangat penting dalam ekositem pantai yaitu sebagai penyambung dan penyeimbang ekosistem darat dan laut. Secara ekonomi hutan mangrove berperan dalam berbagai kegiatan ekonomi masyarakat pesisir. Secara ekologis mangrove berperan sebagai daerah pemijahan dan pembesaran berbagai macam hewan (Nugroho, 2010).

  1. e.    Kebijakan Hutan Mangrove di Indonesia

            Menurut BPHMN(2009) dalamCitra(2007), Balai Pengolahan Mangrove Wilayah (BPHMW) institusi baru didalam jajaran direktoral jendral Rehabilitasi lahan dan perhutanan social departemen kehutanan sejak diterbitkannya peraturan menteri kehutanan nomor P.04/ MENHUT/2007 tangal 6 Februari 2007 keberadaan institusi BPHn, diharapkan dapat menjadi fasilitator dalam terwujudnya penyelengaraan pengelolaan mangrove yang berorientasi pada aspek ekologis social dan pemanfaatan lestari hutan mangrove. Hal tersebut sangat bertautan erat dengan telah makin beratnya tingkat kerusakan hutan mangrove di Indonesia, khususnya wilayah kerja BPHMI.UU no. 41 Tahun 1999 tentang kehutanan telah menngingatkan bahwa pengelolaan dan pelestarian Hutan sebagai salah satu bagian terpenting dari lingkungan adalah mutlak dan wajib dilakukan. Pasal1 ayat 8-9 UU No. 41 Tahun1999 tentang kehutanan menyatakan : Hutan lindung adalah kawasan hutan yang mempunyai fungsi pokok sebagaai pelindung sistem penyangga kehidupan untuk mengatur tata air, mencegah banjir, mengendalikan erosi, mencegah infrasi air laut, dan memelihara kesuburan tanah (Ferto,2007).

  1. f.     Rantai Makanan di Mangrove

            Mangrove dapat tumbuh dan berkembang secara maksimum dalam kaondisi dimana terjadi kondisi penggenangan dan sirkulasi air permukaan yang menyebabkan pertukaran dan pergantian sedimen secara terus menerus, sirkulasi yang tetap (terus menerus) meningkatkan pasokan oksigen dan nutrien untuk respirasi dan produksi yang dilakukan oleh tumbuhan(Dahuri,1999).

            Menurut Zamroni dan Rahyani dalam  Nugraha(2010) serasah mangrove berupa daun, ranting, dan biomassa lainya yang jatuh dan menjadu sumber pakan berbagai hewan dan sekeligus menjadi unsur hara yang berperan dalam produktivitas perikanan laut. Produksi serasah  merupakan bagian penting dalam transver bahan oraganik dari vegetais kedalam tanah. Unsur hara dihasilkan dari proses dekomposisi serasah didalam tanah sanagat penting dalam pertumbuhan mangrove dan sebagai sumber detritrus bagi ekosistem laut dan estuari dalam menyokong kehidupan organisme akuatik.

2.1.3    Estuaria

  1. a.    pengertian Zona esturia

            Daerah estuaria adalah daerah peraliahan antara air laut dengan sungai dengan salinitas yang lebih rendah dari laut dan sedikit kebih tinggi dari perairan tawar , pada zona peralihan ini lah terjadi percampuran air laut dan sungai. Pola percampuran ini sangat dipengaruhi oleh topografi dari pantai itu sendiri dan sudah barang tentu pola percampurannya memberikan klasifikasi yang berbeda pula terhadap estuari itu sendiri (Russady,2009).

            Estuari adalah teluk di pesisir yang sebagian tertutup, tempat air tawar dan air laut bertemu dan bercampur. Kebanyakan estuari ini didominasi oleh substrat berlumpur. Substrat berlumpur ini kaya akan bahan organik. Bahan organik inilah yang menjadi cadangan makanan yang besar bagi organisme estuaria(Dahuri,1999).

  1. b.    Biota pada Zona Mangrove

            Menurut Nyabakken(1988) dalam Zeny(2010),genera daratan yang diminan termasuk suceietoneme, asterionelle, nitzchia, thallassronema dan melsestreria. Genera dinoflagellata yang melimpah termasuk gymnodinium, gonyaulax, perdinium dancerilium. Zooplankton estuaria yang khas meliputi spesies dara genera copepoda, euritemora, actaria, psudodpotomus, dan contropages, misid tertentu misalnya spesies dari genera miomyses praunus dan mesopodosis dan aintipoda tertentu misalnya spesies dari grammarus.

            Ada tiga komponen fauna di estuaria yauit fauna lautan, fauna air tawar dan payau atau estuaria. Komponen fauna yang tersebar didominasi oleh fauna lautan yaitui hewan stenohaline yang terbatas kemampuannya dalam mentolelir perubahan salinitas yaitu hanya mampu mentolelir sampai 30 0/00 dan hewan eurihaline, hewan khas laut karena mampu mentolelir perubahan salinitas hingga dibawah 30/00? (Nyabakken,1988 dalam Dahuri 1999).

Menurut Hutabarat dan Stewart (1995), akibat dari penurunan salinitas pada estuari secara bertahap maka timbullah suatu mintakat (wilayah) dari flora dan fauna yang hidup pada estuarian. Mintakat tersebut dibagi menjadi 3 spesies crustacea Gammarus yang hidup di salah satu daerah esturian yang terdapat di Inggris.Gammarus locustus hidup dekat pada bagian mulut esturin dimana airnya hampir asin dan selanjutnya ke arah hulu dihuni oleh Gammarus zaddachi dan akhirnya Gammarus pulex hidup pada wilayah hulu sungai (air tawar).

2.2      Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kehidupan Organisme dan Keanekaragaman Populasi

2.2.1.   Intertidal

Menurut Indra (2011), faktor fisik dan biologis yang mempengaruhi keanekaragaman kehidupan perairan zona intertidal yaitu :

  1. Faktor fisik (diberi a.b.c…. jangan gambar2)
    1. Pasang surut          : Menyebabkan adanya perbedaan suhu

dan pergerakan naik turunnya air laut yang menyebabkan organisme yang tinggal pada daerah ini harus menyesuaikan diri yang  ekstrim.

  1. Gerakan ombak        :Gerakan ombak dapat mempengaruhi

keanekaragaman kehidupan organisme-organisme yang tidak memiliki kekuatan untuk melekat pada zona ini.

  1. Salinitas                     :Salinitas pada zona ini akan

berfluktuasi yang akan menyebabkan terganggunya sistem penyesuaian dari organisme.

  1. Substrat                      :Di daerah ini terdapat tiga substrat yaitu

batu, pasir dan lumpur.

  1. Faktor biologis
    1. Penyesuaian organisme terhadap lingkungannya karena organisme yang hidup di daerah ini harus memiliki sistem/alat tubuh khusus.
    2. Pemangsaan, karena peristiwa makan-memakan ini dapat menyebabkan jumlah dan kelestarian suatu species dalam zona intertidal.
    3. Penempatan dan tempat tinggal karena tempat tinggal suatu organisme dapat menjadikan suatu organisme dapat bertahan.

Menurut Rahma (2010), kondisi di zona intertidal dipengaruhi oleh faktor-faktor berikut :

  1. Pasang surut merupakan faktor yang penting mempengeruhi kehidupan di zona intertidal.
  2. Suhu, pasang surut terjadi ketika suhu udara minimum atau suhu udara maksimum, batas letal dapat terlampaui dan organisme dapat mati. Kisaran suhu ekstrem menyebabkan organisme semakin lemah.
  3. Gerakan ombak, pengaruh mekanik antara lain menghancurkan dan menghanyutkan benda. Memperluas zona intertidal. Mencampur atau mengaduk gas ke dalam air yang akan meningkatkan kandungan oksigen.
  4. Salinitas, perubahan salinitas mempengaruhi organisme intertidal meliputi zona intertidal saat pasut kemudian digenangi air, salinitas turun. Salinitas tinggi jika terjadi penguapan saat siang hari.
  5. Faktor-faktor lain seperti adanya pasir, batu dan lumpur.

2.2.2.   Mangrove

Faktor-faktor lingkungan yang mempengaruhi zona mangrove adalah faktor fisik yang diterangkan yaitu pasang surut.Kisaran pasang surut dan tipenya bervariasi bergantung pada keadaan geografi bakau.Mangal berkembang hanya pada perairan dangkal dan daerah intertidal, sehingga sangat dipengaruhi oleh pasang surut.Pasang surut dan kisaran vertikalnya yang membedakan periodesitas penggenangan hutan.Periodesitas penggenangan ini kelihatannya penting dalam membedakan kumpulan bakau yang dapat tumbuh pada suatu daerah dan mungkin berperan dalam membedakan tipe-tipe zonasi (Russady, 2010).

Menurut anynomous(2009) dalam Russady(2010), beberapa faktor lingkungan fisik adalah:

  1. Jenis tanah
  2. Terpaan ombak
  3. Penggenangan oleh air pasang

  2.2.3 ESTUARI

Menurut Hutabarat dan Evans (1985) ada 4 faktor yang dipercaya yang menyebaban daerah ini mempunyai nilai produktivitas tinggi yaitu :

  1. Disana tempat suatu penambahan bahan-bahan organik secara terus-menerus yang berasal dari daerah aliran sungai.
  2. Perairan estuarian umumnya adalah dangkal, sehingga cukup menerima sinar matahari untuk menyokong pertumbuhan tumbuh-tumbuhan yang sangat banyak.
  3. Daerah ini merupakan tempat yang relatif kecil menerima aksi gelombang, akibatnya detritus dapat menumpuk didalamnya dan.
  4. Aksi pasang selalu mengaduk bahan-bahan organik yang berbeda disekitar tumbuh-tumbuhan.

Jumlah organisme yang menghuni estuari jauh lebih sedikit jika dibandingkan dengan organisme yang hidup diperairan tawar atau laut. Sedikitnya jumlah spesies ini disebabkan oleh fluktuasi kondisi lingkungan, terutama fluktuasi salinitas yang sangat besar sehingga hanya beberapa spesiaes saja yang mampu bertahan hidup di estuaria. Selain miskin dalam jumlah organisme, estuaria juga miskin akan flora. Perairan estuaria sangat keruh sehingga tumbuhan mencuat saja yang dapat tumbuh (Dahuri, et al, 1999).

2.3 Kualitas Air

2.3.1 PH

PH adalah cerminan dari derajat keasaman yang diukur dari jumlah ion hidrogen menggunkan rumus umum PH = -log (H+). Air murni terdiri dari ion H+ dan OH dalam cairan makin rendah ion H+ dan makin tinggi PH, cairan demikian disebut cairan alkalis. Sebaliknya makin banyak ion H+ makin rendah PH dan cairan terrsebut bersifat masam. Nilai PH terletak antara 1-14 dengan PH = 7 sebagai nilai netral. Air laut biasa bersifat alkalis dengan PH lebih rendah dari 7 dan bersifat masam (Andayani, 2005).

PH adalah derajat keasaman yang digunakan untuk menyatakan tingkat keasaman atau kebiasaan yang dimiliki oleh suatu larutan. Ia didefinisikan sebagai logaritma aktifitas ion hidrogen (H+) yang terlarut (Wikipedia, 2011).

2.3.2 SUHU

Suhu adalah besaran yang menyatakan derajat panas atau dingin suatu benda dan alat yang digunakan untuk mengukur suhu adalah thermometer. Dalam kehidupan sehari-hari masyaraktat untuk mengukur suhu cenderung menggunakan indra peraba. Tetapi dengan adanya perkembangan teknologi maka diciptakanlah thermometer untuk mengukur suhu dengan falid (Anto, 2008).

Suhu adalah pernyataan tentang perbandingan (derajat) panas suatu zat.Dapat pula dikatan sebagai ukuran panas atau dinginnya suatu benda (Arianto, 2008).

 

2.3.3 SALINITAS

Salinitas atau kadar garam ialah banyaknya garam-garam (dalam gram) yang terdapaat dalam satu kilogram (100 gram) air laut yang dinyatakn dengan perseribu. Salinitas umumnya stabil, walaupun dibeberapa tempat terjadi fluktuasi.Laut mediterania dan laut merah mencapai 39 perseribu – 40 perseribu yang disebabkan banyak penguapan, sebaliknya dapat turun dengan drastic juka hujan turun. Laut akan memiliki kadar garam yang rendah banyak dijumpai di daerah-daerah yang banyak muara sungainya. Pada musim barat, laut di asia tenggara mulai dari bulan desember/mei diteluk Thailand dan bagian timur laut pantai Sumatra mempunyai nilai kadar garam rendah (Devoav, 1997).

Salinitas adalah tingkat keasinan atau kadar  garam terlarut dalam air. Salinitas juga dapat mengacu pada kandungan garam dalam tanah.Kandungan garam pada sebagian besar danau, sungai dan saluran air alami sangat kecil sehingga air ditempat ini dikatagorikan sebagai air tawar. Kandungan garam sebenarnya pada air ini secara definisi kurang dari 0,05%. jIka lebih dari itu, air dikatagorikan sebagai air payau atau menjadi saline bila konsentarasinya 3-5% lebih dari itu disebut brine (Darmadi, 2010).

2.3.4 DO

Oksigen terlarut (dissolved oxygen = DO) merupakan salah satu peubah mutu air yang mampu mempengaruhi peubah lain. Konsentrasi karbondioksida dan PH harian air tambah berubah-ubah sesuai dengan konsentrasi oksigen terlarut.Pada gilirannya perubahan PH mempengaruhi keseimbangan reaksi amenia (NH4+NH3) dan senyawa sulfide (Andayani, 2005).

DO atau bisolved oksigen atau oksigen terlarut adalah parameter kimia yang menunjukkan banyaknya oksigen yang terlarut dalam ekosistem perairan (Arianto,2008).

            2.3.5 Kecerahan

                        Kecerahan air laut ditentukan oleh kekeruhan air laut itu sendiri dari kandungan sedimen yang dibawa oleh aliran air. Air laut juga menampakkan warna yang berbeda-beda tergantung pada zat-zat organik maupun anorganik yang ada (Devoav,2009).

                        Kecerahan adalah parameter fisika yang erat kaitannya dengan proses fotosintesis pada suatu ekosistem perairan kecerahan yang tinggi menunjukkan daya tembus cahaya matahari yang jauh ke dalam perairan begitu juga sebaliknya (Arianto,2008).

3. METODOLOGI

3.1 Alat dan Bahan

3.1.1 Fungsi alat

Alat – alat yang digunakan dalam praktikum Biologi Laut                 yang dilakukan dilapangan adalah sebagai berikut :

  1.  Zona Mangrove

Adapun alat yang digunakan pada praktikum biologi laut di lapang pada zona mangrove antara lain :

1.Cetok                : untuk mengambil biota yang ada dalam transek.

2.Kamera digital : untuk mengambil gambar biota yang didapat.

3.Ember               : sebagai tempat alat dan bahan biota yang      diambil.

4.Transek            : sebagai alat yang digunakan untuk menentukan letak biota.

  1. b.    Zona Estuaria

Adapun alat yang digunakan pada praktikum biologi laut di lapang pada zona estuari antara lain :

  • Kecerahan
  1. Tali                              : sebagai penghubung sechidisk dan alat penanda kecerahan

  perairan

  1. Sechidisk                  : untuk mengukur kecerahan dalam zona estuaria
  2. Tongkat skala           : berfungsi untuk mengukur ketinggian dari kecerahan perairan
  • Salinitas
  1. Pipet tetes                       : untuk mengambil sample air yang akan diukur salinitasnya.
  2. Refraktometer     : untuk mengukur salinitas.
  3. Washing Bottle   : untuk tempat aquadest.
  4. Bottle                    : sebagai wadah dari zat cair yang akan diuji salinitasnya.
  • DO

1.Statif                              : sebagai penyangga panjang buret.

2. Botol DO                      : sebagai tempat sampel air yang akan diukur kadar oksigennya  dipermukaan, dasar, dan tengah.

3.Buret                             : sebagai tempat titrasi.

4.Selang                          : untuk mengambil cairan bening

5.Water sample  r           : untuk tempat botol DO

6.Pipet tetes                    : untuk mengambil larutan dalam jumlah kecil.

7.Corong                         : untuk mempermudah memasukkan bahan kedalam buret.

8.Ember                           : untuk meletakkan alat dan bahan.

9.Kamera Digital            : untuk mengambil gambar profil estuari.

  • Suhu

1.Termometer Hg           : untuk mengukur suhu di perairan estuari.

  • pH

1.Kotak standart Ph       : sebagai alat untuk mengidentifikasi pH yang diperoleh.

  1. Zona Intertidal

Adapun alat yang digunakan pada praktikum biologi laut di lapang pada zona intertidal antara lain :

    1. Cetok                          : untuk mengambil biota yang ada dalam transek.
    2. Kamera digital          : untuk mengambil gambar biota yang didapat.
    3. Ember                                    : sebagai tempat alat dan bahan biota yang diambil
    4. Transek                      : sebagai alat yang digunakan untuk menentukan letak biota
    5. Seser                          : untuk mengambil biota di daerah intertidal
    6. Tali rafia                     : sebagai sampel panjang pantai 25 meter
    7. Selang aerator          : untuk mencari titik keseimbangan antara tali rafia dan tongkat skala
    8. Tongkat Skala          : untuk mengukur kedalaman air laut pada zona intertidal

 

3.1.2 Fungsi Bahan

  1. Zona Intertidal

Bahan-bahan yang digunakan dalam praktikum biologi laut di zona intertidal adalah :

  • Kertas label : untuk menandai plastic bening.
  • Air laut : untuk media hidup biota yang di temukan.
  1. Zona estuary

Bahan-bahan yang digunakan dalam praktikum biologi laut di zona estuary adalah :(setiap akhir kalimat di beri titik)

  1. Pengukuran DO perairan dan titrasi
  • MnSO4 : untuk mengikat O2 dalam air di dalam botol DO.
  • NaOH + KI : mengkondisikan basa, membentuk endapan coklat dan mengikat I2.
  • H2SO4 : untuk mengkondisikan asam.
  • Amilum : untuk indikasi basa dan indicator ungu.
  • Na2S2O3 : untuk larutan pentitrasi.
  1. Pengukuran pH perairan
  • pH paper : untuk mengukur pH perairan.
  • Air : bahan yang akan di ukur pH-nya.
  1. Pengukuran salinitas
  • Air : bahan yang akan di ukur salinitasnya.
  • Aquadest : untuk mengkalibrasi refraktometer.
  • Tissue : untuk membersihkan kaca prisma refraktometer.
  1. Pengukur kecerahan
  • Air : untuk media saat pengukuran kecerahan.
  • Kertas A4 : untuk mencata hasil pengamatan.
  1. Pengukuran suhu
  • Air : bahan yang akan di ukur suhunya.
  • Kertas A4 : untuk mencatat hasil pengamatan.

    3.2 Prosedur kerja
    3.2.1 Pengambilan biota di zona intertidal ( Transek kuadrat )

    3.2.2 Pengambilan biota mangrove

    3.2.4  Pengukuran Kelandaian Pantai 

    3.2.5   Profil Pantai

    4.1.5   Profil pantai, estuari dan mangrove

                a. profil pantai

     

     

     

                b. profil estuari

     

     

     

     

     

     

                c. profil mangrove

     

     

    4.1.6   Hubungan Tinggi dengan Panjang pada Kemiringan Pantai

     

    Pasir pantai

    Tali rafia 20 m

     

    • Perhitungan Kelandaian

    Tan  =  

     

                = 

     

          = 0,06

     

        = 3,4

     

     

     

     

    • Panjang kemiringan pantai

     

        =

     

      = 

     

      = 

     

    =  18,04 m

    4.2 Analisa Hasil dan Prosedur

    4.2.1 Mangrove

    a. Analisa Prosedur

    Hal pertama yang dilakukan yaitu dipersiapkan alat dan bahan yang akan digunakan. Alat yang digunakan yaitu belt transek (1x1m), cetok, ember, kamera digital, alat tulis dan seser. Bahan yang digunakan antara lain kertas label, kantong plastik dan karet gelang. Belt transek yang digunakan sebelumnya ditentukan dulu letak stasiun satu sampai dengan lima. Setelah diketahui letak yang nantinya biotanya dimati, diletakkan stasiun 1 sampai stasiun 5 sesuai stasiun yang telah ditentukan. Kemudian digali tanah menggunakan cetok jika biota tersebut bersembunyi dalam tanah. Jika tempat yang ditentukan tersebut pada air maka menggunakn seser untuk menangkap biota yang ada pada transek tersebut.

    b. Analisa Hasil

    Berdasarkan hasil pengamatan pada zona mangrove didapatkan hasil pada stasiun 1 transek 1 didapatkan tiga biota zona mangrove yaitu kepiting yang berukuran kecil, agak kecil dan sedang. Pada stasiun 1 transek 2 didapatkan kepiting berukuran agak kecil dan sedang.

    Pada stasiun 1 transek 3 didapatkan satu kepiting. Pada stasiun 1 transek 4 didapatkan kepiting dengan berukuran besar. Pada stasiun 1 transek 5 didapatkan ikan gelodok. Beberapa hewan mangrove tersebut ditemukan habitatnya beradaptasi dengan melekat dengan akar pohon.

    Seperti yang ditemukan pada zona mangrove, kepiting dan ikan gelodok beradaptasi dengan melekat atau menempel dan bertempat tinggal di akar pohon mangrove yang merupakan spesies utama pada zona mangrove. Hal ini sesuai dengan pendapat Romimontarto (2001) dalam Zeny (2010) yang menyatakan bahwa beberapa hewan mangrove beradaptasi hidup melekat pada akar rizopora dan bruguiera. Bersama mereka biasanya terdapat masyarakat kecil terdiri dari keong, kerang, kepiting, udang, teritip, isopoda, amphipoda, cacing, sepon dan ikan.

    ZONA MANGROVE

                                                                            STASIUN 1

     

    Analisis grafik

    Dapat disimpulkan dari grafik tersebut bahwa spesies paling banyak terdapat pada transek 1 yaitu 3 spesies.

    4.2.2 Pantai

    a. Analisa Prosedur

                Pada praktikum biologi laut di pantai tepatnya di zona intertidal,yang harus dilakukan terlebih dahulu yaitu dipersiapkan alat dan bahan yang digunakan. Alat yang digunakan antara lain transek kuadrat (1x1m), cetok, tongkat skala, kamera digital, alat tulis, ember, selang aerator dan seser. Bahan yang digunakan antara lain tali raffia, kantong plastik 1 kg, karet gelang dan kertas label. Langkah selanjutnya setelah dipersiapkan alat dan bahan, transek kuadrat berukuran (1x1m) dilihat terlebih dahulu apakah dalam kondisi baik. Kemudian transek kuadrat diletakkan di pinggir pantai terlebih dahulu pada tempat yang telah disediakan. Kemudian ditentukan stasiun 1 sampai dengan stasiun 10 dengan diloncati satu stasiun, pergantian stasiun satu ke stasiun yang lainnya sampai ke stasiun sepuluh. Pergantian stasiun tersebut sampai menuju ke bagian agak dalam dari pantai. Kemudian dilakukan penggalian tiap transek 1, 3, 6, 8, 10 ntuk mendapatkan biota laut pada masing-masing stasiun. Kemudian biota-biota tersebut di ambil dari masing-masing stasiun. Selanjutnya biota tersebut dimasukkan dalam kantong yang selanjutnya diikat menggunakan karet gelang. Biota yang sudah dimasukkan dalam kantong plastik tersebut diberi kertas label agar tidak tertukar dengan yang lain. Didapatkan hasil.

    b. Analisa Hasil

                Berdasarkan hasil pengamatan zona pantai didapatkan hasil yaitu pada stasiun 2 transek 3 didapatkan spesies Bellerocheahorologicalis sebanyak satu spesies, pada stasiun 7 transek 5  ditemukan lumut coklat yang termasuk dalam spesies Chandruscisprus yang bercirikan warna coklat kemerahan dengan pajang antara 10cm sampai 1 meter. Stasiun 8 transek 5 di temukan spesies yang sama dengan stasiun 7 transek 5 yaitu Chandruscisprus  yang memiliki ciri-ciri sama. Stasiun 9 transek 1 ditemukan undur-undur laut yang bercirikan memiliki bentuk seperti kumbang dengan 2 capit berukuran kecil pada bagian belakang dan 2 capit besar pada bagian depan, terdapat 2 garis yang terletak di tengah tubuh secara vertical, terdapat dua uropot dan dua antena pada bagian depan tubuh berwarna putih kekuningan dengan mata terletak di sekitar kepala. Stasiun 10, transek 5 didapatkan lumut merah yang termasuk dalam spesies Euchemadenticulatum dengan bercirikan warna merah dan memiliki duri yang berderet yang membentuk ruas-ruas.

                Dari hasil pengamatan tersebut dapat disimpulkan bahwa spesies yang paling banyak ditemukan adalah sejenis alga yaitu alga merah dan coklat. Alga ini ditemukan dalam kondisi yang masih segar karena pada waktu diambil dari zona intertidal, air masih menutupi bagian seluruh tubuh tersebut, tapi apabia air surut maka alga ini akan terlihat kering dan mudah sekali rapuh. Hal ini diperkuat oleh pendapat Nybakken (1988) yang menyatakan mekanisme sampel yang dapat kita lihat pada bagian zona intertidal adalah alga seperti porifera dan enteromorpha.

     Tanaman tersebut tidak mampu bergerak dan tidak mempunyai mekanisme untuk melindungi dirinya dari air yang surut. Spesies dari alga ini ditemukan pada kedaan kering dan rapuh ketika air mulai surut. Setelah air mulai kembali normal dengan cepat mekanisme tubuh mereka kembali normal.

    ZONA INTERTIDAL

    TRANSEK 1

     

                                                                                           

                                

     

     

     

     

     

     

    TRANSEK 2

     

                                                                                                     

     

    TRANSEK 3

     

     

     

     

     

     

     

     

     

    TRANSEK 4

     

     

    TRANSEK 5

     

     

    Analisa grafik

    Zona intertidal

    Dapat disimpulkan dari grafik tersebut bahwa jumlah biota paling banyak pada transek no.5.

     

     

     

    4.2.3     Estuaria

    A. Analisa Prosedur

    Langkah pertama yang dilakukan pada praktikum Biologi laut zona estuari yaitu dipersiapkan alat dan bahan yang akan digunakan. Alat-alat yang digunakan antara lain termometer, sechdisk, kotak standart PH, water sampler, refraktometer, botol DO, kamera digital, pipet tetes, alat tulis dan ember. Setelah dipersiapkan alat dan bahan, melakukan pengukuran kualitas air, antara lain :

    1. pH

    Untuk mengukur PH suatu perairan menggunakan PH paper.PH paper dicelupkan dalam perairan, kemudian ditunggu sampai 2-3 menit.Setelah itu PH paper dikibas-kibaskan sampai setengah kering.Kemudian PH paper dicocokkan dengan parameter warna yang terdapat pada kotak standar. Maka akan didapatkan PH perairan.

     

     

    1. Suhu

    Untuk mengukur suhu suatu perairan, alat yang digunakan yaitu termometer. Termometer tersebut dimasukkan dalam perairan yang akan diukur suhunya dengan mengarahkan termometer membelakangi datangnya cahaya matahari. Setelah selesai mengukurnya, termometer ditunggu 2-3 menit, kemudian dicatat suhunya yang tertera pada skala termometer.Selanjutnya termometer diangkat dari perairan.

     

     

    1. Oksigen terlarut

    # Di lapangan

    Untuk mengukur oksigen terlarut yang terdapat langsung pada zona estuari alat yang digunakan yaitu water sampler.Pertama, water sampler dibuka bagian tutupnya, kemudian disiapkan botol DO yang berfungsi mengambil oksigen terlarut dalam perairan.Kemudian botol DO tersebut dimasukkan dalam water sampler. Selanjutnya dibuka tutup botol DO yang kemudian diletakkan disamping botol DO.

                  Kemudian di tutup water sampler selanjutnya disambungkan selang pada tutup water sampler.Selanjutnya water sampler dimasukkan secara perlahan-lahan ke dalam perairan.Selang aerator yang disambungkan pada tutup water sampler diletakkan dekat telinga, sehingga ketika bunyi “Blub” dapat terdengar.Hal itu menandakan bahwa botol DO telah penuh.Kemudian ujung selang ditutup, water sampler diangkat perlahan ke permukaan kembali.Kemudian dibuka tutup water sampler, sedangkan botol DO ditutup.Botol DO diambil atau diangkat dari water sampler, kemudian dibolak-balik. Hal ini bertujuan agar tidak terjadi gelembung pada botol DO. Selanjutnya sampel yang telah diambil ditetesi dengan 2 mL larutan MnSO4 dengan tujuan mengikat oksigen.Selanjutnya ditambahkan lagi 2 mL NaOH + KI dengan tujuan membentuk endapan coklat serta melepas I2. kemudian dihomogenkan. Setelah itu diendapkan selama 30 menit. Kemudian tutup kembali botol DO.

                  Pada laboratorium, botol DO yang berisi sampel air diambil cairan beningnya untuk dibuang karena tidak dipergunakan.Selanjutnya ditetesi dengan 2 mL larutan H2SO4 yaitu sebagai indikator asam.Kemudian dihomogenkan.Setelah itu ditetesi dengan amilum sebanyak 2-4 mL dengan tujuan membentuk warna ungu serta pengkondisian basa.Kemudian dihomogenkan.Selanjutnya sampel diletakkan dibawah bikret yang berisi cairan Na2S2O3 yang berfungsi untuk mengikat I2 saat litrasi.Ditunggu cairan dengan ditetesi dibawah bikret sampai bening pertama kali. Selanjutnya dilihat Vo yang digunakan. Dihitung DO menggunakan rumus :

                 

    Kemudian didapatkan DO.

    1. Salinitas

    Untuk mengukur salinitas alat yang digunakan beruparefraktometer.Dibuka tutup yang ada pada refraktometer.Selanjutnya prisma refrakto pada refraktometer dikalibrasi dengan menggunakan aquadest.Selanjutnya dikeringkan menggunakan tissue.Hal ini dilakukan agar saat digunakan tidak terpengaruhi oleh pengukuran salinitas sebelumnya.Kemudian diteteskan air sampel yang telah diambil pada prisma refraktometer.Kemudian tutup refraktometer secara perlahan dengan kemiringan 45o agar tidak terjadi gelembung saat ditutup.Selanjutnya arahkan refraktometer pada arah datangnya cahaya datang.Dilihat dan diamati skala kanan untuk salinitas.Didapatkan salinitas perairan.

    1. Kecerahan

    Pada pengukuran kecerahan, langkah pertama yang harus dilakukan yaitu dipersiapkan alat dan bahan. Alat yang digunakan antara lain sechdisk dan tongkat skala, sedangkan bahan yang digunakan yaitu berupa karet gelang dan alat tulis. Setelah dipersiapkan alat dan bahan langkah selanjutnya yaitu diukur tingkat kecerahan perairan di estuari dengan mencelupkan sechdisk pada tempat yang mempunyai kedalaman paling dalam diantara tempat lain secara perlahan. Kemudian diamati sechdisk sampai tidak terlihat untuk pertama kali dicatat sebagai d1 dan ditandai dengan karet gelang.Kemudian perlahan sechdisk dicelupkan sampai dasar perairan.Setelah sampai dasar kemudian diangkat perlahan dan dicatat sebagai d2 ketika sechdisk terlihat untuk pertama kali, kemudian ditandai dengan karet gelang.Setelah selesai sechdisk yang telah diukur tadi, diukur ketinggian d1 dan d2 nya menggunakan tongkat skala, kemudian di catat.Dalam pengukuran dengan tongkat skala diusahakan dilakukan pengukuran pada tempat yang datar.

     

     

     

    B. Analisa Hasil

    • DO

                Berdasarkan pengamatan pada zona estuary didapatkan hasil yaitu pada saat perhitungan DO (Oksigen Terlarut), didapatkan DO pada permukaan perairan 9,3 mg/l, DO pada tengah perairan 3,41 mg/l, dan pada dasar perairan 4,06 mg/l.

    • Kecerahan

                Berdasarkan pengamatan pada zona estuary didapat hasil yaitu pada saat pengukuran kecerahan menggunakan secchidisk didapat hasil 35,5 cm. Berartitingkat kecerahan pada zona ini kurang sehingga biota yang tinggal hanya sedikit karena kondisi perairannya keruh, sehingga menyebabkan kurangnya sinar matahari yang masuk untuk fotosintesis. Hal ini diperkuat pendapat Oevoav (1997), pada perairan laut yang jernih dan menyatakan dalam fotosintesis tumbuhan mencapai 200 m, sedangkan jika keruh hanya mencapai 15-40 cm..

    • pH

                Berdasarkan hasil pengamatan pada zona estuari didapat hasil pH yaitu 8, karena estuary merupakan tempat bertemunya air laut dan tawar sehingga salinitas pun mengalami peningkatan. Hal ini diperkuat oleh pendapat Lekang (2007), air laut yang normal mempunyai nilai pH antara 7,3 sampai 8,3.

    • Suhu

                Berdasarkan hasil pengamatan pada zona estuari didapat hasil nilai suhu 30oC. Nilai suhu tersebut merupakan suhu yang baik untuk pertumbuhan ikan dalam perairan. Hal ini diperkuat oleh pendapat Burhannudin et,al (2010), bahwa suhu badan ikan ditempat yang sama berkisar 28-30,2oC dengan rata-rata 29oC.

     

    • Salinitas

                Berdasarkan hasil pengamatan pada zona estuari didapat hasil salinitas 25%0, maka digolongkan air payau. Hal ini diperkuat oleh pendapat Kinne (1961) dalam Burhannudin (2010) bahwa perairan dibagi jadi 4 golongan berdasarkan salinitasnya. Air dengan salinitas 0,5%0 adalah air tawar, salinitas 0,5-30%0 termasuk air payau, salinitas 30-40%0 digolongkan air laut.

    • Perhitungan DO

                Diketahui :     Vbotol DO permukaan           = 219 ml ; Ar O2

                                        Vbotol DO tengah       = 250 ml

                            Vbotol DO dasar                      = 250 ml

                            Vtitran  permukaan     = 10 ml

                            Vtitran  tengah             = 4,2 ml

                                        Vtitran  dasar                = 5 ml

                                        Ntitran                           = 0,025 N

                Ditanya :        a. DO perairan

                                        b. DO tengah

                                        c. DO dasar

                Jawab :         

                            DO perairan = 10×0,025x1000x8

                                                            219-4

                                                 = 9,3 mg/l

     

                            DO tengah   = 4,2×0,025x1000x8

                                                             250-4

                                                 = 3,41 mg/l

     

                            DO dasar     = 5×0,025x1000x8

                                                 250-4

                                                = 4,06 mg/l

     

     

    • Perhitungan Kecerahan

    Pengukuran dengan secchisdik

               

                Diketahui       : D1 =39 ; D2 = 32

                Ditanya          : Kecerahan (D)?

                Jawab                        : D = d1 + d2

                                                    2

                                              = 39 + 32

                                                                  2

                                                         = 35,5 cm       

     

    • Perhitungan Kelandaian

    Diketahui       : y = 1,08

                              x = 18

    Ditanya          : α ?

    Jawab                        : tan α = y/x

                              tan α = 1,08/18

                                       = 0,06

                                  α   = 3,4o

     

     

     

     

     

     

    5. PENUTUP

     

    5.1 Kesimpulan

         Adapun kesimpulan yang dapat diambil dalam praktikum biologi laut, yaitu :

    • Zona intertidal adalah zona yang dipengaruhi oleh pasang surut air laut. Faktor-faktor yang mempengaruhinya yaitu pasang surut, suhu, gerakan ombak, salinitas,substrat,  pemangsaan, penetapan dan tempat tinggal.
    • Zona mangrove adalah zona hutan bakau yang merupakan kelompok tumbuh-tumbuhan yang tumbuh di zona intertidal diantara permukaan laut dan pasang.
    •  Zona estuari adalah daerah peralihan antara laut dengan sungai dengan salinitas yang lebih rendah dari laut. Kualitasair bisa terlihat dari PH, suhu, salinitas, DO dan kecerahaan.
    • Dalam praktikum kali ini di dapat biota dari :
      • Zona mangrove : kepiting, tumbuhan dan ikan gelodok.
      • Zona estuari : tidak ada biota.
      • Zona intertidal : didapat sejenis lumut-lumutan dan undur-undur laut.
      • Dari hasil praktikum yang telah dilakukan didapatkan hasil pada zona mangrove yaitu biota berupa kepiting (Scylla scerata) ikan gelodok dan tumbuhan bakau. Kemudian untuk zona estuari didapat hasil PH=8, suhu=30o, salinitas=25o/oo, kecerahaan=3,41 mg/l, DO permukaan=9,3mg/l, DO tengah=3,41mg/l dan DO di dasar = 4,06mg/l. Kemudian pada zona intertidal didapat biota berupa lumut-lumutan yaitu lumut merah ,lumut coklat dan lumut hijau, dan undur-undur laut. Kelandaian 3,4o.

    5.2 Saran

                Sebaiknya dalam praktikum biologi laut yang diadakan dilapangan dikomando satu titik sehingga tidak membingungkan praktikan.

     

     

    DAFTAR PUSTAKA

     

    Andayani.2005.Zona Estuari. http://andayani.log.com . Diakses pada tanggal 10 Mei 2011 pukul 13.00 WIB. (jarak spasinya 1 spasi untuk 1 dapus, “10 mei” agak menjorok ke kanan berlaku untuk semuanya, kalo pengarangnya banyak di tulis semua tapi namanya ga usah di balik kecuali yang pertama, jangan di tulis et.al.,, jarak dari dapus 1 dan yang lain tetap 1,5 spasi, nama judul huruf tebal atau miring, kalu jurnal kalao ada identitas jurnalnya dicantumkan, nama pengarang harus lengkap)

    Anto. 2008. Suhu. http://aljabar.wordpress.com/008/04/07/suhu. Diakses pada tanggal 10  Mei 2011 pukul 13.00 WIB.

    Arianto. 2008. Pengertian Suhu. http://sobatbaru.blogsot.com/2008/04/pengertian_suhu.html. Diakses pada tanggal 10  Mei 2011 pukul 13.00 WIB.

    Burhannudin, et al. 2010. Sumber Daya Bahari. Lembaga Oseanologi Nasional: Jakarta.

    Chairil Anwar. 2007. Hutan Mangrove. Djambatan : Jakarta.

    Citra. 2011. Biota pada Zona Mangrove. http: citraomo.blogspot.mangrove.html. Diakses pada tanggal 10  Mei 2011 pukul 13.00 WIB.

    Dahuri, et al. 1999. Zona Estuari.UI-Press : Jakarta.(jangan pake et.al., ditulis semua namanya)

    Daradi. 2010. Salinitas Laut. http: dhamadharma.wordpress.com/2010/02/11/salinitas_laut. Diakses pada tanggal 10  Mei 2011 pukul 13.00 WIB.

    Devoav.1997. Mengetahui Kualitas Air. http://devoav.1997.webnode.om/news/megetahui_kualitas_air_lautnewscbm30419/40. Diakses pada tanggal 10  Mei 2011 pukul 13.00 WIB.

    Devoav.2009.http://devoav.1997.webnode.om/news/megetahui_kualitas_air_lautnewscbm30419/40. Diakses pada tanggal 10  Mei 2011 pukul 13.00 WIB.

    Ferto. 2007. Kebijakan Hutan Mangrove di Indonesia. http:ferto.blogspot.com. Diakses pada tanggal 10  Mei 2011 pukul 13.00 WIB.

    Hutabarat Sahala dan Stewart. 1985. Pengantar Oceanografi. UI-Press: jakarta.

    Indra. 2011. Faktor Fsik dan Biologis yang Mempengaruhi Keanekaragaman Kehidupan pada Perairan Zona Intertidal. http://kuliahkeren.blogspot.com/2011/04/faktor fisik dan biologis. Diakses pada tanggal 10  Mei 2011 pukul 13.00 WIB.

    Julyamil. 2011. Mangrove. Djambatan: Jakata.

    Mangrovecenter. 2009. Biota pada Zona Mangrove. http://citraomo.blogspot.mangrove.html. Diakses pada tanggal 10  Mei 2011 pukul 13.00 WIB.

    Nabilla. 2010. Zona Intertidal. http://nabilla.blogspot.com. Diakses pada tanggal 10  Mei 2011 pukul 13.00 WIB.

    Nugraha Wahyu. 2010. Prduksi Serasah (Guguran Daun) pada Berbagai Jenis Mangrove di Bangkalan. Jurnal.

    Nybakken. 1988. Marine Biology.

    Rahma. 2010. Faktor – faktor yang Mempengaruhi Zona Intrtidal. http://dlati4ever.blogspot.com/2010/05/kondisi_lingkungandi_zona_intertidal.html. Diakses pada tanggal 10  Mei 2011 pukul 13.00 WIB.

    Romimontarto Kasjian dan Sri Juwana. 2007. Biologi laut. Djambatan: Jakarta.

    Russady. 2010. Ekologi Perairan. http:my opera.com/russady RJ/2010/05/03/perikanan. Diakses pada tanggal 10  Mei 2011 pukul 13.00 WIB.

    Wikipedia. 2011. PH. http://id.wikipedia.org/wiki/11. Diakses pada tanggal 10  Mei 2011 pukul 13.00 WIB.

    Zeny. 2010. Biologi laut. http://zeyfapusy.com/2010/11/Biologi_Laut.html. Diakses pada tanggal 10  Mei 2011 pukul 13.00 WIB.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s